Lalai Lindungi Nyawa Ipar Edo Kondologit, AKBP Ary Nyoto Layak Dicopot!

Senin, 31 Agustus 2020 – 12:30 WIB

AKBP Ary Nyoto Setiawan (Foto:Istimewa)

AKBP Ary Nyoto Setiawan (Foto:Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kasus kematian adik ipar Edo Kondologit, George Karel Rumbino alias Riko (21) masih menjadi perhatian publik Indonesia. Sebabnya, untuk kesekian kalinya tersangka kasus pidana tewas di rumah tahanan (rutan) milik polisi.

Riko tewas diduga dianiaya sesama tahanan di Polres Sorong. Menanggapi kasus ini, pengamat hukum Fajar Trio mendesak Mabes Polri mencopot Kapolres Sorong AKBP Ary Nyoto Setiawan.

Bukan tanpa alasan, Fajar menyebut polisi tidak memberikan jaminan perlindungan HAM terhadap almarhum Riko. Apalagi status korban masih tersangka dan belum terpidana, maka Polres Sorong harusnya mengedepankan asas praduga tak bersalah.

"Perlindungan HAM tersangka ada di UU No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pasal 50 sampai dengan Pasal 68 menjamin hak tersangka untuk hidup dan mendapatkan perlindungan hukum," kata Fajar di Jakarta, Senin 31 Agustus 2020.

Ia pun menyayangkan alasan AKBP Ary Noto yang menyebut bahwa tersangka dianiaya lantaran dituding melakukan pemerkosaan. Berdasarkan UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM, lanjutnya, tersangka dijamin haknya untuk tidak menerima perlakuan secara diskriminasi hingga tidak disiksa serta hak persamaan di depan hukum.

Tak hanya itu, Fajar menegaskan bahwa selain polisi dilarang melakukan penyiksaan, tahanan juga punya hak yaitu bebas dari tekanan, seperti diintimidasi, ditakut-takuti dan disiksa secara fisik. Hal itu berdasarkan Pasal 11 ayat (1) huruf b Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia (“Perkapolri 8/2009”)

Seharusnya, kata dia, sesuai Pasal 27 UUD 194, maka Riko seharusnya mendapatkan kesamaan di muka hukum. "Maka sudah seharusnya AKBP Ary Noto dicopot dari jabatannya karena dugaan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa tahanan, seperti yang dialami adik ipar Edo Kondologit," kata dia.

Sebelumnya, kemarahan Edo Kondologit yang terekam video dan diposting akun Twitter Veronica Koman, @VeronicaKoman pada Minggu 30 Agustus 2020 menarik perhatian masyarakat. Edo murka disebabkan sang ipar tewas di tahanan Polres Sorong.

Polda Papua Barat pun dikabarkan langsung menerjunkan Propam untuk mengecek aduan itu. "Saya sudah turunkan tim dari Propam dan Dirkrimun untuk memeriksa secara komprehensif kasus itu. Kalau pun nanti kita temukan pelanggaran, karena ada versi berbeda yang saya dengar, kalau nanti ada pelanggaran maka kami akan tindak tegas petugas yang alpa dan lalai," kata Kapolda Papua Barat, Irjen Tornagogo Sihombing.

Pihaknya berjanji bakal menindak bila anak buahnya melakukan pelanggaran terkait SOP. "Intinya kami akan lakukan tindakan tegas kalau ada melakukan pelanggaran dan tidak sesuai SOP, ada jalurnya di Propam, bisa sanksi kode etik maupun disiplin," kata dia.

Terkait adanya beda versi cerita soal meninggalnya adik ipar Edo Kondologit, ia menegaskan tidak akan menutupi kasus ini. "Kalau benar mereka melakukan pelanggaran, marah juga saya. Intinya kalau proses hukumnya tidak sesuai aturan, kami akan tindak anggota tersebut," kata Tornagogo.

Mengutip video yang diposting akun Twitter Veronica Koman, @VeronicaKoman, tampak Edo Kondologit marah-marah. "Cukup sudah sandiwara di negeri ini, saya sudah sakit hati sekali ini, kita akan menuntut keadilan. Kita akan menuntut ke propam, polda, polsek semua," teriak Edo.

"Riko ini adalah korban dari sistem ya ambrol," kata Edo lagi.

Menanggpi video tersebut, Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan menjelaskan peristiwa itu bermula ketika polisi menerima laporan adanya seorang wanita paruh baya berinisial A (60) yang tewas di Pulau Doom, Papua Barat. A diperkosa, dibunuh, lalu ponselnya dicuri.

Setelah diselidiki, tersangka mengarah ke Riko. "Barang buktinya juga ada tuh TV, terus handphone (korban) lalu juga ada minuman keras yang didapatkan (di bawah kasur Riko)," ujar Ary kepada wartawan, Minggu 30 Agustus 2020

Usai diinterogasi, Riko mengakui perbuatannya. Pihak keluarga pun, kata Ary, menyetujui pemeriksaan terhadap Riko. Riko pun dibawa ke Polres Sorong.

Namun, saat diperiksa di Polres Sorong, Riko kabur. Dengan tangan terborgol, Riko menerjang kaca jendela kantor polisi untuk kabur. "Yang bersangkutan (Riko) lari dari ruang pemeriksaan keluar nabrak kaca di kantor kita sampai kantor kita pecah kacanya. Kemudian kita tangkap lah (Riko)," kata Ary.

Lalu, Riko dibawa ke mobil polisi. Namun, Riko kembali melakukan perlawanan hingga kakinya ditembak.

Ia kemudian dibawa ke rumah sakit untuk dirawat sementara. Setelahnya, Riko dijebloskan ke dalam sel Polres Sorong.

Di dalam sel itu lah, kata Ary, Riko mendapatkan penganiayaan. "Di dalam tahanan ini dia dianiaya oleh tahanan lain. Kenapa dianiaya? karena memang (tersangka) kasusnya pemerkosaan, dia bunuh mama-mama, itu pasti dianiaya sama teman-temannya," kata Ary.

Saat dicek, Riko sudah terkapar tak berdaya. Polisi langsung membawa Riko ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya. "Begitu di rumah sakit, meninggal, dilakukan visum. Memang yang menyebabkan meninggalnya itu luka-luka di kepala, di benturan kepala. Karena kita lihat rekaman CCTV nya dia dianiaya, dipukulin sama tahanan yang lain," kata Ary.