Haris Azhar Khawatir Pengunggah Video Dangdutan Kasat Lantas Pasuruan Dipidana

Senin, 05 Oktober 2020 – 12:01 WIB

Pendiri Lokataru Foundation Haris Azhar (Foto: Istimewa)

Pendiri Lokataru Foundation Haris Azhar (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kegaduhan kembali terjadi lagi di institusi Polri. Usai pengajuan pengunduran diri AKP Agus Hendro, Kasat Sabhara Polres Blitar, kini gilran AKP Akhmad Rakhmatullah Dwi Nugroho dan AKP Andhika Mizaldy Lubis. Mereka diduga melanggar Maklumat Kapolri Idham Azis dengan menggelar dangdutan bareng biduan di acara malam keakraban sertijab Kasat Lantas Polres Pasuruan. Aksi keduanya pun viral di media sosial.

Menanggapi kasus tersebut, Pendiri Lokataru Foundation, Haris Azhar angkat bicara. Menurut dia, peristiwa itu harus diungkap dengan baik. "Kita harus berterima kasih kepada membuka ke publik. Peristiwa tersebut sudah dua bulan yang lalu, artinya struktur pimpinan Polisi di lokasi mengetahui dan membiarkan. Bisa dibilang mengamini," kata Haris kepada REQnews di Jakarta, Senin 5 Oktober 2020.

Kata Haris, dengan dibukanya informasi tersebut dan diketahui publik adalah sistem sosial yang berlaku dalam teori hukum di mana masyarakat akan bekerja mengawasi (aparatur) negara yang sewenang-wenang. "Meskipun lokasi dangdutan tersebut dikatakan tidak zona merah saat itu, saya pikir, aparatur negara penting untuk menunjukan disiplin untuk tidak berbaur secara campursari-an," ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa dangdutan campursari itu justru menjadi tontonan yang diskriminatif, masyarakat umum dipaksa bubar sementara mereka polisi-polisi sebaliknya. "Menunjukan seolah kebal hukum. Hal yang seperti ini yang membuat masyarakat semakin apatis ke Penegak hukum dan Negara."

"Saya khawatir pembuat video dan penyebar video tersebut nanti yang akan dijadikan sasaran pemidanaan. 'Lagu lama' cara selesaikan masalah."

Di samping itu, untuk memenuhi asas keadilan di masyarakat, Haris mendesak agar Polri memproses pidana oknum perwira tersebut.

"Terlepas ada asumsi menyudutkan Polri atau tidak, faktanya kejadian dangdutan itu ada. Artinya tuduhan sudah voltooid delict. Kecuali kejadian tidak ada, bisa saja dikatakan itu rekayasa dan ada upaya menyudutkan," kata dia.

Sebelumnya, warganet dihebohkan dengan video dangdutan melanggar protokol kesehatan pada saat sertijab Kasat Lantas Pasuruan. Diketahui, video tersebut diunggah Sabtu malam pukul 23.35 WIB dan sudah 2.837 kali dibagikan dan dikomentari 144 kali. Sebagian besar netizen mengecam.

"Negoro dagelan," kata netizen.

"Inilah akibat pemimpin yg gak punya ketegasan dalam bersikap dan bertindak," ujar yang lain.

"Angel wes angel..." sindir akun lainya.

"Duwek.e tilangan masker gae nyawerr," geram netizen selanjutnya.

"Lek daerah pasuruan di obrak, video iki dodono ngarep matate cek gak angger ngobrak wong ae," sungut akun lainnya.

"Aturan pemerintah tumpul atas tajam ke bawah. Kasihan masyarakat kecil... Miris hati saya melihat negeri ini," ujar akun lain.

Sebagian besar polisi memakai masker, namun ada beberapa yang tanpa masker. Meski demikian tak ada physical distancing. Tampak juga pria menaburkan uang ke biduan.

Di atas panggung terpampang spanduk bertuliskan "Malam Keakraban Keluarga Besar Satlantas Polres Pasuruan".


"Sertijab di kantor, virtual upacaranya, antara kapolres dan yang sertijab tanda tangan aja di layar. Tidak ada acara apa-apa. Takutnya itu video lama," kata Kasubbag Humas Polres Pasuruan Kompol Hardi.