Pollycarpus Meninggal, Haris Azhar Sampaikan Salam Duka dari KASUM

Sabtu, 17 Oktober 2020 – 21:30 WIB

Haris Azhar (foto-foto REQnews : Hari S & Bosko N)

Haris Azhar (foto-foto REQnews : Hari S & Bosko N)

JAKARTA, REQnews - Eks terpidana kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib, Pollycarpus Budihari Priyanto meninggal dunia, Sabtu, 17 Oktober 2020. Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Haris Azhar pun angkat bicara.

Mantan Koordinator KontraS itu pun menyampaikan duka cita atas meninggalnya Pollycarpus karena terinfeksi COVID-19. Haris juga menyampaikan bela sungkawa dari KASUM atau Komite Aksi Solidaritas untuk Munir kepada keluarga mantan pilot Garuda Indonesia tersebut.

"KASUM mengucapkan turut berduka cita buat keluarga Pollycarpus," kata Haris menjawab REQnews di Jakarta, Sabtu 17 Oktober 2020.

Ia pun mengomentari mengenai kasus Munir, yang menurutnya bahwa konstruksi kasus sebenarnya sudah muncul di berbagai dokumen hukum mengenai semua perkara yang sudah pernah diadili, tidak hanya perkara dengan terdakwa Pollycarpus.

"Bahkan sejumlah bahan lain juga ada. Artinya, bahan untuk terus mengungkap kasus Munir bukan kendala teknis dan tidak terkait dengan wafatnya Pollycarpus. Melainkan kendala politis, yaitu soal kemauan negara saja," kata Haris.

Sebelumnya Pollycarpus dinyatakan positif Covid-19. Ia meninggal dunia setelah dirawat selama 16 hari karena positif virus mematikan tersebut. Kabar meninggalnya Pollycarpus disampaikan Sekjen Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang kepada wartawan, Sabtu, 17 Oktober 2020.

Pollycarpus lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 26 Januari 1951. Ia adalah seorang pilot senior maskapai Garuda Indonesia yang ditetapkan tersangka kasus Munir. Pada 19 Maret 2005, dia ditetapkan menjadi tersangka setelah menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik dengan lebih dari 100 pertanyaan.

Pembunuhan diduga dilakukan dengan cara memberi racun pada makanan Munir. Penyidik menduga Polly bukanlah tersangka utama pada kasus ini, melainkan berperan sebagai fasilitator. Saat peristiwa itu terjadi Polly sedang tak bertugas, tetapi berada dalam pesawat yang sama dengan Munir.

Kursi yang kemudian diduduki Munir adalah kursi yang sebenarnya untuk Pollycarpus, tetapi ia menawarkan penggantian tempat duduk dengan Munir. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan penangkapannya.

Pada 1 Desember 2005, jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menuntutnya hukuman penjara seumur hidup karena terbukti terlibat dan merencanakan pembunuhan Munir. Tetapi ternyata ia divonis hukuman penjara selama 14 tahun oleh majelis hakim.

Setelah mendapatkan sejumlah pemotongan hukuman, Polly dinyatakan bebas murni pada Agustus 2018. Namun sebelumnya ia mendapatkan bebas bersyarat pada November 2014.