IPW Bongkar 5 Rahasia Dibalik Penangkapan Edhy Prabowo

Kamis, 26 November 2020 – 18:30 WIB

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane (Foto: Istimewa)

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Menteri Perikanan dan Kelautan Edhy Prabowo menjadi tersangka dalam suap terkait dengan Perizinan Tambak, Usaha dan/atau Pengelolaan Perikanan atau Komoditas Perairan Sejenis Lainnya Tahun 2020.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane memberikan apresiasi pada KPK. " Untuk pertama kali KPK era Firli berhasil menangkap seorang menteri yang diduga terlibat korupsi," ujar Neta saat dihubungi tim REQnews di Jakarta, pada Kamis 26 November 2020.

Ia juga mengungkapkan bahwa IPW melihat, ada lima makna strategis dibalik penangkapan itu. Pertama, penangkapan terhadap Menteri Kelautan adalah hadiah akhir tahun yang diberikan KPK pimpinan Komjen Pol Firli kepada masyarakat Indonesia.

Di mana publik, kata dia, sempat meragukan komitmen Firli untuk melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Kedua, penangkapan ini adalah penangkap atau OTT kakap yang pernah dilakukan di era Firli. Sebab baru kali ini KPK pimpinan Firli menangkap seorang menteri.

Ketiga, penangkapan ini makin menunjukkan KPK makin independen dan tidak terkoptasi kekuatan partai politik. Setelah melakukan OTT terhadap tokoh PDIP, KPK membuktikan mampu menangkap seorang menteri yg juga tokoh partai Gerindra.

Keempat, penangkapan ini menunjukkan Firli sudah berhasil melakukan konsolidasi di KPK. Sehingga dalam kasus OTT terhadap Menteri KKP itu melibatkan Novel Baswedan yang sempat diisukan dekat dengan tokoh-tokoh Gerindra.

Kelima, penangkapan ini makin menunjukkan bahwa semua partai di negeri ini terlibat korupsi. Akibat penangkapan ini tentu berdampak besar pada masa depan partai Gerindra dan publik akan mempertanyakan integritas partai pimpinan Prabowo tersebut.

IPW juga berharap, bahwa KPK ke depannya bisa makin aktif memburu para koruptor, terutama dari kalangan partai politik yang menjadi pejabat tinggi negara, terutama menteri kabinet, hal ini bertujuan untuk efek jera.

Selain itu KPK juga perlu mencermati politik uang di dalam pilkada serentak 9 Desember mendatang agar para pelakunya bisa dijerat OTT.

Setelah Edhy Prabowo beserta 6 orang lainnya menjalani pemeriksaan dan ditetapkan sebagai tersangka, selanjutnya akan dilakukan penahanan terhadap para tersangka di rutan selama 20 hari. Terhitung sejak tanggal 25 November 2020 sampai dengan 14 Desember 2020 yang masing-masing bertempat di Rutan KPK Cabang Gedung Merah Putih.