Soal ATM Ainul Faqih, KPK Harus Telusuri TPPU Kasus Edhy Prabowo

Sabtu, 28 November 2020 – 03:02 WIB

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Menunjukkan Barang Bukti Terkait OTT Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (Foto: Hastina)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Menunjukkan Barang Bukti Terkait OTT Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (Foto: Hastina)

JAKARTA, REQnews - Kasus yang menjerat Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo memasuki babak baru. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga masih ada pihak lain yang terlibat dalam kasus suap terkait dengan Perizinan Tambak, Usaha dan/atau Pengelolaan Perikanan atau Komoditas Perairan Sejenis Lainnya Tahun 2020.

"Karena satu pemberi saja (Suharjito), polanya seperti ini dan dari rekening yang ada saja kan jumlahnya melebihi 1,5 (Rp 1,5 miliar) tentunya akan ada pemberi-pemberi yang lain," ujar Deputi Penindakan KPK Karyoto, pada Kamis 26 November 2020.

Dalam kasus suap tersebut, ia menduga bukan hanya Suharjito sebagai Direktur PT Dua Putra Perkasa yang terlibat, namun masih ada eksportir lainnya yang turut memberikan suap terkait ekpor benih lobster ke luar negeri.

Terkait dengan keterlibatan pihak lain, dari informasi yang beredar diduga ada keterlibatan WNI inisial MNS yang terlihat kerap kali mendampingi Edhy Prabowo dalam kegiatan dinasnya. Informasi tersebut beredar terkait dengan foto yang sering Edhi Prabowo posting dalam akun instagramnya.

Pakar Hukum Pidana dari Universitas Al Azhar Indonesia, Suparji Ahmad menjelaskan, agar kasus tersebut jelas, jika terdapat nama-nama yang diduga terlibat sebaiknya diperiksa juga oleh KPK.

Selain itu, dengan pengungkapan kasus yang dipimpin oleh Novel Baswedan, membuktikan bahwa KPK di era kepemimpinan Firli sudah bersahabat dengan penyidik senior itu. Sebelumnya mereka sempat diisukan renggang.

"Sepertinya sudah terjadi sinergi dan kolaborasi," ujar Suparji kepada REQnews, Kamis 26 November 2020.

Terkait barang bukti sebuah ATM yang dimiliki oleh Ainul Faqih selaku staf Istri Menteri Edhy, Iis Rosita Dewi, kemungkinan juga bisa diselidiki lebih lanjut dengan tindak pidana pencucian uang. "Perlu ditelusuri kemungkinan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) dengan pola tersebut," ujar Suparji.

Diketahui bahwa dalam kegiatan Operasi Tangkap Tangan (OTT), KPK mengamankan 17 (tujuh belas) orang pada hari Rabu tanggal 25 November 2020 sekitar jam 00.30 Wib di beberapa tempat, yaitu Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Tangerang Selatan, Depok (Jawa Barat) dan Bekasi (Jawa Barat). 

Para pihak tersebut selanjutnya diamankan dan dibawa ke Gedung Merah Putih KPK untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil tangkap tangan tersebut ditemukan ATM BNI atas nama Ainul Faqih (AF), Tas LV, Tas Hermes, Baju Old Navy, Jam Rolex, Jam Jacob n Co, Tas Koper Tumi dan Tas Koper LV.