MIT Makin Sadis, SETARA: Evaluasi Satgas Tinombala!

Selasa, 01 Desember 2020 – 20:02 WIB

Satgas Tinombala (Foto: Istimewa)

Satgas Tinombala (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Wakil Ketua Badan Pengurus SETARA Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan, upaya Satuan Tugas Operasi (Satgas) Tinombala untuk mengisolasi kelompok teroris Ali Kalora perlu dievaluasi. Sebab cara pasukan gabungan TNI-Polri mencegah mereka tidak memperoleh logistik bisa dikatakan mengalami kegagalan.

Hal itu diungkapkan Bonar menyikapi terbunuhnya satu keluarga di Desa Lembatongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Jumat 27 November 2020, sekitar pukul 09:00 WITA. Aksi sadis itu dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) sisa-sisa kelompok Santoso yang hingga kini belum berhasil diringkus Satgas Tinombala.

"Beberapa kali mereka berhasil turun dan meneror masyarakat untuk mengambil logistik. Serangan semacam itu sudah dilakukan beberapa kali dalam tahun ini," ujar Bonar, kepada REQnews, Selasa, 1 Desember 2020.

Ia menilai, indikasi kegagalan satgas gabungan Tinombala juga terlihat dari kondisi psikologis warga yang lebih takut pada kelompok MIT.

"Karena sebagian dari mereka malah lebih takut kepada kelompok teror tersebut dan sebagian kecil juga ada yang bersimpati kepada mereka," ujar Bonar.

Karenanya, Bonar menilai harus dilakukan evaluasi terhadap Satgas Tinombala. "Saya setuju perlu ada evaluasi, meski memang melawan pasukan kecil yang taktis gerilya berpindah-pindah dan sepertinya lebih mengenal medan yang berat, dengan hutan lebat dan jurang batu-batuan yang curam, jelas tidak mudah," katanya lagi.

Selain itu, SETARA Institute mendesak agar Satgas Operasi Tinombala yang masa tugasnya sudah diperpanjang sampai 31 Desember 2020, agar mengoptimalkan sisa masa tugas untuk memburu kelompok MIT yang masih berkeliaran.

"Komplotan teroris Poso tersebut tidak boleh diremehkan, apalagi dianggap lemah," kata Bonar.

Pasca tewasnya Santoso dan tertangkapnya Basri pada 2016, Ali Kalora mengambil alih kepemimpinan MIT Poso dan hingga kini tak tersentuh aparat. "Satgas dan seluruh aparat keamanan harus menjamin seluruh warga negara, termasuk di pedalaman dan pegunungan Sulawesi Tengah, dari serangan kelompok manapun yang mengancam keamanan dan keselamatan (human security) mereka," ujarnya.