Peringatan 23 Tahun Tragedi Trisakti, KontraS : Terduga Aktor Intelektualnya Masih Memegang Jabatan

Rabu, 12 Mei 2021 – 23:30 WIB

Tragedi Trisakti 1998 (Foto: Wikipedia)

Tragedi Trisakti 1998 (Foto: Wikipedia)

JAKARTA, REQnews - Hari ini 12 Mei 2021, tepat 23 tahun yang lalu terjadi tragedi Trisakti. Empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur memperjuangkan reformasi. Namun, hingga saat ini otak intelektual dibalik peristiwa tersebut belum diketahui. 

Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) kepada REQnews.com mengungkapkan alasan mengapa dalang dibalik peristiwa Trisakti 1998 ini mustahil diadili secara hukum meskipun sebenarnya pihaknya ataupun saksi sejarah lainnya mengetahui siapa pelaku atau menduga seseorang dibalik tragedi ini. 

"Yang diduga pelaku dan diduga aktor intelektualnya masih memegang jabatan atau berada di lingkaran kekuasaan." kata Head of Impunity Watch Division KontraS, Tioria Pretty Stephanie Rabu 12 Mei 2021.

Misalnya saja katanya dalam dua tahun terakhir Negara mengambil langkah mundur dengan memberi jabatan pada eks anggota Tim Mawar yang terbukti oleh Pengadilan melakukan penculikan aktivis 1997-1998.

"Dari satu contoh itu saja saya yakin kita sama-sama bisa menyaksikan kekuatan sebesar apa yang masih bisa melindungi para terduga pelaku pelanggaran HAM berat masa lalu untuk diadili secara hukum." katanya. 

Tioria Pretty juga mengatakan peringatan 23 tahun peristiwa Trisakti ini harus membuat kita sadar bahwa sebenarnya rantai kekerasan dan impunitas atas tragedi ini terus berlangsung sampai sekarang dan akan terus berlanjut di masa depan jika tidak diselesaikan secara menyeluruh.

"Kita bisa saksikan bagaimana sejarah sudah mengulang dirinya saat ini. Institusi Negara yang berwenang menjaga keamanan melakukan tindakan represif terhadap mahasiswa yang melangsungkan aksi damai, korban yang berjatuhan banyak di setiap aksi, bukan hanya luka-luka tapi juga meninggal." ucapnya. 

Lanjut dia, kita juga bisa saksikan bagaimana penghilangan paksa bukan hanya terjadi di 1997-1998 tapi masih ada sampai sekarang dalam penangkapan sewenang-wenang yang dilakukan aparat. Preseden buruk pelanggar HAM berat era Orde Baru bisa melanggeng bebas tanpa pertanggungjawaban hukum selama ini turut memberi sumbangsih pada kasus pelanggaran HAM yang terjadi di masa ini.

Tioria Pretty juga meminta penyelesaian pelanggaran HAM berat secara menyeluruh, bukan hanya mendesak untuk korban dan keluarga, tapi juga mendesak untuk seluruh bangsa Indonesia terutama generasi muda untuk mengetahui kebenaran sejarah dan belajar dari masa lalu sebagai bentuk jaminan ketidak-berulangan yang sesungguhnya.

Saat ditanya perihal mungkinkah di rezim selanjutnya kasus Trisakti ini akan tuntas, perwakilan KontraS ini menyebut mungkin saja. Jikalau suatu saat ada pemimpin atau aparat penegak hukum yang berani.

"Bagi saya satu kata berani sudah mewakili banyak hal: berani jujur, berani mengakui kesalahan yang dibuat pemimpin Negara di masa lalu, berani berdiri bersama korban pelanggaran HAM berat, aparat hukum yang berani menegakkan hukum" ujarnya.