Peringatan Hari Anak Nasional, Praktisi : Anak-anak Kita Ditelantarkan

Jumat, 23 Juli 2021 – 23:36 WIB

Praktisi Pendidikan Digital, Indra Charismiadji (Foto: Istimewa)

Praktisi Pendidikan Digital, Indra Charismiadji (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Kata orang anak adalah aset dan generasi penerus bangsa. Karenanya perlu dijaga dan dirawat agar menghasilkan bibit-bibit unggul. Peringatan Hari Anak Nasional harus dijadikan momentum membuka mata, hati dan telinga kita kalau masih banyak anak-anak 'terlantar'.  

 

Setiap tanggal 23 Juli setiap tahunnya, Indonesia merayakan Hari Anak Nasional (HAN). Hal itu untuk mengingatkan semua pihak bahwa anak-anak, perlu dipenuhi hak mereka sebagai anak, melindungi mereka dari segala bentuk diskriminasi dan kekerasan. 

Praktisi Pendidikan Digital, Indra Charismiadji mengatakan pada peringatan Hari Anak Nasional tahun ini banyak anak-anak Indonesia yang ditelantarkan.

"Terus terang sejak masa pandemi anak-anak kita ditelantarkan karena memang tidak diajak untuk beradaptasi, untuk bisa belajar secara optimal untuk didorong dan disiapkan menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dengan dalih adanya pandemi. Terbukti sampai hari ini dimana-mana banyak keluhan tentang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) " kata Indra saat dihubungi REQnews.com, Jumat 23 Juli 2021.  

Mendapatkan pendidikan yang baik kata Indra adalah hak anak yang harus dipenuhi. Jika tidak, berarti hak mereka telah terenggut.

Terlebih selama satu setengah tahun bangsa ini tidak mampu beradaptasi dengan keadaan karena problem pertamanya justru datang dari Kemendikbud sendiri.

 

”Setiap paparan soal kondisi pembelajaran, ada pesan negatif tentang PJJ dari Kemendikbud Ristek. Kemendikbud dari awal sudah memiliki pernyataan dan ini sudah diungkapkan berkali-kali mengatakan semakin lama tidak ada ada Pembelajaran Tatap Muka (PTM) maka dampak negatif semakin besar. Tentu saja mindset ini berdampak pula pada guru, siswa, dan orangtua yang lebih percaya PTM daripada PJJ,” ucapnya.

Dia juga menegaskan jangan membayangkan pendidikan akan kembali seperti tahun 2019 yang masih mengandalkan tatap muka.

"Kampanyekan pembelajaran digital atau pembelajaran tanpa tatap muka itu bisa berdampak positif. Harusnya didorong untuk yang namanya punya pemikiran bertumbuh (growth mindset). Itu yang harusnya dari awal dikampanyekan sehingga tidak seperti sekarang semua orang pengen tatap muka semua orang pengen kembali ke tahun 2019 padahal itu nggak akan mungkin terjadi." katanya.

Indra juga mengungkapkan jika ada langkah yang harus dimulai dan dibenahi maka yang pertama kali harus diubah adalah mindset. 

 

Jadi langkah yang harus dibenahi pemerintah yang pertama harus ubah mindset. Setelah berubah mindsetnya kampanyekan seluruh Indonesia jika ini sudah abad ke-21 atau era digital.

Apalagi kata Indra tantangan zaman semakin besar.

"Kita membutuhkan SDM unggul yang inovatif dan kreatif untuk menghadapi tantangan era kedepannya" ujar Indra.

 

Dalam pembelajaran digital ini, kata Indra perlu mempersiapkan kerangka 3i, yakni infrastruktur, infostruktur, dan infokultur. 

Kesiapan infrastruktur seperti gawai dan jaringan internet. Kemudian infostruktur atau informasi yang terstuktur agar siswa tidak terjebak dalam informasi hoaks, tendensius, dan lain-lain. 

Terakhir infokultur. Pendidikan digital membangun budaya baru belajar bisa di mana saja dan kapan saja, bahkan sistem pembelajaran on demand atau sesuai dengan kebutuhan siswa harus disiapkan. 

Kalau ketiganya tidak dapat terpenuhi, Indra mengingatkan untuk berhati-hati. 

"Dampaknya, siap-siap kalau kita punya mimpi bonus demografi yang kita dapatkan adalah bencana demografi karena bener-bener anak-anak kita tidak belajar" katanya lagi.

Selain pergesaran pembelajaran, Indra juga berpendapat jangan menyamakan hak anak dengan dengan tahun 1980. 

"Kalau buat saya bicara hak anak bicara hak anak di era 2021 jangan bicara hak anak tahun 1980 tahun 1990. Ini karena perubahan budaya karena perubahan teknologi" ucap Indra.

Indra juga mengajak seluruh elemen masyarakat agar memiliki komitmen yang sama, bahwa Hari Anak Nasional harus dimaknai sebagai kepedulian bersama untuk melindungi semua anak-anak yang ada di Indonesia. 

Dia juga berpesan agar anak-anak tetap selalu bersemangat dalam belajar menggunakan apapun medianya, baik digital atau tatap muka.