IFBC Banner

Ada Benalu dan Pengkhianat di Kejaksaan, Halius Hosen: Bukti Waskat Gak Jalan!

Jumat, 15 April 2022 – 09:36 WIB

Jaksa Agung, ST. Burhanuddin (Foto: Istimewa)

Jaksa Agung, ST. Burhanuddin (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Mantan Ketua Komisi Kejaksaan (Komjak) Halius Hosen menilai jika pernyataan Jaksa Agung ST Burhanuddin terhadap para 'jaksa nakal' dengan sebutan 'benalu' dan 'pengkhianat' adalah sebagai bentuk ancaman serius.

Pertanyaannya, apakah ancaman tersebut sifatnya personal lantaran jaksa itu satu, satu untuk semua, semua untuk satu.  Namun, dirinya menilai jika kata pengkhianat tidak pas digunakan. Sedangkan benalu, menurut dia, adalah satu tanaman yang tumbuh di tempat tanaman lain, kemudian dia membunuh tanaman tempat dia tumbuh itu.

"Jadi ada orang-orang yang diduga memiliki kepentingan-kepentingan, keuntungan pribadinya, sehingga akan menyebabkan rusaknya institusi, itu benalu. Benalu itu tidak bisa dipangkas ujungnya, harus dipangkas sampai akar-akarnya," kata Halius kepada REQnews.com, dikutip pada Jumat 15 April 2022.

Sehingga, jika Jaksa Agung menilai ada benalu di tubuh Kejaksaan, maka harus dipangkas hingga akarnya agar tak tumbuh benalu lainnya dan memberikan dampak buruk bagi Kejaksaan.

"Karena benalu itu luar biasa dampaknya terhadap institusi itu akan sangat buruk sekali, yang sudah dibina. Ada ribuan orang di Kejaksaan ini yang telah mengabdi agar tegaknya Kejaksaan kembali berkibar, yang di daerah-daerah timur itu susah hidupnya untuk menegakkan panji-panji kejaksaan, kemudian mereka roboh dengan benalu-benalu yang tidak benar," kata dia.

Namun menurutnya jika pengkhianat disandingkan dengan benalu, tidak tepat. Halius mengatakan bahwa orang yang berkhianat lebih ke personal atau mengarah ke orang tertentu, bukan pada institusi.

"Nah ini yang menjadi tanda tanya dari saya, pengkhianat itu siapa? Apakah ada orang-orang sekitaran yang melakukan upaya-upaya berkhianat? Kalau berkhianat ke institusi saya kira tidak pas," kata Halius.

Ia pun kemudian menerjemahkan jika kata pengkhianat bukan lagi ke profesi, namun sudah ada rasa sakit hati, intrik dan keinginan-keinginan jahat. "Nah ini hanya jaksa agung yang bisa menjabarkan dan tahu, siapakah itu penghianat-penghianat. Kalau tidak ada, tidak mungkin dilontarkan kepada publik," kata dia.

Menurutnya, pernyataan tersebut bukan lagi sebagai warning, tetapi sudah ada indikasi yang kuat, sehingga Burhanuddin harus bertindak melalui jajaran-jajarannya seperti Jamwas dan Komjak.

Masalah tersebut salah satu penyebabnya adalah dengan tidak berjalannya pengawasan melekat (waskat) di Kejaksaan Agung. "Bagaimana gagal, Waskat itu enggak berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan aturan-aturan Waskat," ujarnya.

Halius mengatakan bahwa Waskat merupakan pengawasan langsung yang dilakukan oleh atasan kepada anak buahnya. Tak hanya mengawasi perilaku, tetapi juga membina.

"Jadi kegagalan anak buah dalam melaksanakan tugasnya adalah kegagalan atasan langsungnya. Nah, ini mana pernah terjadi sejak jaman waskat-waskat itu. Jadi bagaimana? Saya kira harus melaksanakan waskat dengan benar dan sesuai aturan," ujar mantan ketua Komjak itu.

Namun, dirinya tak menyebut jika anak buah bersalah otomatis atasannya juga bersalah, tapi harus diperiksa, ditindaklanjuti dan dicari akar permasalahannya. Yaitu apakah benar ada kelalaian dari pimpinan untuk mengawasi anak buahnya sehingga terjadi perbuatan penyalahgunaan kewenangan dan lainnya, atau memang di luar itu.

"Agar terciptanya keadilan, ini harus dilakukan dengan pengawasan, yaitu dengan kontrol terhadap satu sistem manajemen hukum, kontrol itu harus tetap berjalan. Meskipun jaksa itu banyak sampai ke pelosok, itu seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak diawasi," tambahnya.

Artinya, harus diciptakan satu sistem sehingga pengawasan itu tetap berjalan. Makanya perlu ada pengawasan fungsional yang dilakukan secara rutinitas dan pengawasan melekat untuk memperkuat. "Pengawasan melekat ini konsekuensi dan konsistensinya bagaimana? Itulah yang menjadi pertanyaan saya," ujar Halius.

Diketahui, sebelumnya saat melakukan kunjungan kerja di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat pada 30 Maret 2022, Jaksa Agung ST Burhanuddin menyebutkan kata 'benalu' dan 'pengkhianat.' Hal tersebut disampaikan karena dirinya masih menerima laporan terkait adanya oknum 'jaksa nakal.'

Burhanuddin pun menyeyangkan jika di dalam instansinya masih ada oknum yang justru merusak citra Kejaksaan.  “Saya yakin dan percaya masih sangat banyak aparat saya yang baik, bekerja penuh dengan integritas dan profesional, bekerja dengan ikhlas bahu-membahu membangun citra Kejaksaan yang kita cintai,” ujar Burhanuddin.

“Namun sayang, seringkali kerja keras kita membangun citra institusi dirubuhkan sendiri oleh perilaku oknum kejaksaan, mitra kerja kita sendiri yang dengan sadar menjadi benalu dan pengkhianat,” lanjutnya.

Ia pun kemudian memberikan ancaman kepada para oknum 'jaksa nakal' tersebut, namun setelah dirinya menerbitkan surat edaran pada 31 Januari 2022, ternyata masih menerima laporan itu. “Tidak sampai satu bulan sejak saya mengeluarkan surat tersebut, saya masih menerima laporan yang sama dari berbagai daerah,” kata dia.