IFBC Banner

Seorang Bocah Tewas Usai Depresi Dipaksa Setubuhi Kucing, ADI: Kami Kecam Keras Aksi Bullying!

Kamis, 21 Juli 2022 – 13:22 WIB

Korban bullying (Foto: Ilustrasi)

Korban bullying (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA, REQnews - Seorang bocah berinisial F (11) yang masih duduk di kelas V Sekolah Dasar (SD) meninggal usai menjalani perawatan di rumah sakit karena depresi, tak mau makan dan minum usai menjadi korban bullying oleh teman-temannya pada Minggu 17 Juli 2022.

IFBC Banner


Saat itu, F dipaksa oleh teman-temannya bersetubuh dengan kucing dan direkam menggunakan ponsel dan disebarkan. Selain menjadi korban perundungan selama masih hidup, bocah Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat itu diketahui kerap dipukuli oleh teman-temannya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Animal Defenders Indonesia (ADI) Doni Herdaru Tona mengecam adanya aksi bullying terhadap anak dan kekerasan terhadap hewan dalam hal ini kucing.

"Pertama-tama, kami segenap pengurus di Animal Defenders Indonesia turut berduka cita atas wafatnya adik F. Kami mengecam keras, pada aksi-aksi bullying seperti ini, terlebih lagi ini terkait dengan kekerasan pada hewan," kata Doni kepada wartawan, Kamis 21 Juli 2022.

Doni menilai jika kejahatan terhadap hewan tidak akan ada dampak positif dan manfaatnya, hanya akan menimbulkan kerugian. Ia mengatakan bahwa aksi menyetubuhi hewan adalah tindakan kejam dan tak bisa ditolerir.

"Kali ini, peringatan kita dari jauh-jauh hari terbukti dan sudah saatnya kita semua bergerak, tidak tinggal diam. Bahwa kekejaman pada hewan, termasuk aksi menyetubuhi hewan adalah tindakan yang tidak bisa ditolerir," katanya.

Ia menyebut bahwa dalam RUU KUHP mengakomodir perlindungan hewan lebih spesifik sangat diperlukan, dan perlu adanya efek jera serta sosialisasi bahwa kekerasan pada hewan yang dilakukan dapat dipidana.

"Untuk kasus F ini, anak-anak yang terlibat dalam perundungan dan pemaksaan F menyetubuhi kucing tersebut harus diperiksa dan jika memungkinkan, diberikan hukuman sesuai dengan tingkat kesalahannya," lanjutnya.

Termasuk, kata Doni, memberikan teguran keras kepada orang tua mereka agar mendidik dan menjaga anak-anak dengan baik hingga memberikan pemahaman yang baik terkait hak hidup hewan.

Sementara Pakar Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) Muhammad Fatahillah Akbar mengatakan bahwa perlu adanya pencegahan bullying, anak-anak tersebut harus diberikan sekolah khusus untuk pembelajaran.

"Memang perlu ada pencegahan bullying sejak awal. Anak-tersebut tersebut harus diberikan sekolah khusus untuk jadi pembelajaran," kata Akbar kepada wartawan, Kamis 21 Juli 2022.

Selain itu, menurutnya orang tua dan guru juga harus bertanggungjawab dengan adanya pembiaran bullying. "Orang tua dan guru yang membiarkan harus bertanggungjawab, karena membiarkan kejahatan," kata dia.