Bangga! UNESCO Tetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Warisan Budaya Dunia
JAKARTA, REQnews - Kabar membanggakan datang untuk publik Indonesia! Komite Warisan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan (UNESCO) memutuskan bahwa Sumbu Filosofi Yogyakarta di Indonesia resmi diakui sebagai Warisan Budaya Dunia pada 19 September 2023.
Keputusan ini diumumkan secara resmi dalam Sidang Luar Biasa ke-45 di Riyadh, Arab Saudi. Di momen itu, Indonesia diwakili oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz Ahmad. Hadir pula pejabat penting dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), termasuk Wakil Gubernur DIY KGPAA Sri Paduka Paku Alam X, Sekretaris Daerah DIY Beny Suharsono, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, serta Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu DIY Agus Priono.
"Kami merasa terhormat dapat menyumbangkan mutiara ini ke dalam Daftar Warisan Dunia, yang merupakan perpaduan indah antara warisan budaya benda dan takbenda," kata Abdul Aziz, seperti dilansir dalam situs resmi Pemerintah Provinsi Yogyakarta, dikutip Rabu, 20 September 2023.
Sri Paduka paku Alam X yang mewakili Gubernur DIY pun menyampaikan kebanggaannya bahwa Sumbu Filosofi Yogyakarta yang dikenal sebagai "The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks" kini tak hanya menjadi milik Indonesia, tetapi juga milik dunia.
"Saya, mewakili Bapak Gubernur DIY atas nama Pemda DIY mengucapkan syukur alhamdulillah atas ditetapkannya Warisan Budaya Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia dari Indonesia. Sumbu Filosofi Yogyakarta dengan nama The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks, kini tidak hanya menjadi milik Yogyakarta atau Indonesia, tetapi juga menjadi milik dunia," ujar Sri Paduka Paku Alam X.
Predikat Warisan Dunia UNESCO ini diberikan lantaran Yogyakarta memiliki nilai-nilai budaya tinggi, yang bisa berkontribusi pada kesejahteraan dunia.
Sebagai informasi, Sumbu Filosofi Yogyakarta merupakan konsep tata ruang khas Jogja yang pertama kali diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I, raja pertama Keraton Yogyakarta, pada abad ke-18.
Konsep tata ruang ini didasarkan pada konsepsi Jawa dan terdiri dari struktur jalan lurus yang membentang antara Panggung Krapyak di selatan, Keraton Yogyakarta di tengah, dan Tugu Golong-gilig (Pal Putih) di utara.
Garis lurus yang menghubungkan ketiga titik inilah yang membentuk Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Redaktur : Puri
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.