Giordano Bruno Sang Martir Ilmu Pengetahuan, Korban Kebrutalan Gereja Roma
JAKARTA, REQnews - Para sejarawan, ilmuwan dan pemikir abad ke-19 hingga ke-20 menyebut Giordano Bruno, sebagai ‘Martir Ilmu Pengetahuan’. Bukan tanpa alasan, jasanya bagi perkembangan sains begitu besar.
Namun, hidupnya berakhir dengan cara dibakar hidup-hidup dengan tuduhan sesat, atas perintah Tahta Suci Gereja Katolik Roma pada 17 Februari 1600.
Lahir dengan nama Filippo Bruno pada Januari atau Februari 1548, sosok filsuf tersohor ini pandai dalam ilmu matematika, teologi, dan yang membuatnya terkenal adalah teori-teori kosmologi hingga pengembangan konsep heliosentris.
Sejak digaungkan oleh Copernicus, teori heliosentris yang menjadikan matahari sebagai pusat tata surya, dikembangkan lebih luas oleh Bruno.
Dalam gagasannya, Bruno mempercayai bahwa bintang-bintang yang bersinar di langit malam, adalah matahari jauh, yang dikelilingi planet-planetnya sendiri.
Bruno dianggap sebagai peletak dasar teori, bahwa di sistem bintang lainnya, kemungkinan ada kehidupan di antara planet-planet yang bertebaran.
Bisa dikatakan, Bruno termasuk sosok yang mula-mula menginspirasi teori-teori atau konspirasi kekinian akan keberadaan alien atau makhluk asing.
Teori Bruno itu, dikenal luas dengan nama pluralisme kosmik. Ia juga menyatakan alam semesta begitu luas tak terbatas dan tak memiliki pusat.
Namun, kepandaian Bruno dalam ilmu kosmologi, tidak mampu diserap oleh orang-orang gereja Roma yang kala itu tidak menyukai hal-hal filosofis atau pembuktian-pembuktian baru mengenai alam semesta, dan terkesan tekstual.
Inkuisisi Roma, sebuah mahkamah dengan sistem pengadilan yang dibentuk gereja, mulai melayangkan tuduhan penyimpangan kepada Bruno dengan segala ilmu kosmologinya.
Bruno dianggap sesat dan menyangkal semua doktrin Katolik tentang neraka, Trinitas, kelahiran Kristus, keperawanan Maria.
Pemikiran Bruno yang dianggap paling liar dan berbahaya bagi keberlangsungan kekuasaan gereja Roma adalah panteisme.
Adapun panteisme, adalah keyakinan bahwa alam semesta ini merupakan manifestasi Tuhan atau bahwa segala sesuatu adalah Tuhan.
Keyakinan ini juga tidak mengakui adanya Tuhan spesifik, seperti dewa atau demi Bumi dan sejenisnya.
Panteisme yang dianut Bruno, dianggap telah melecehkan Trinitas, khususnya kelahiran Yesus Kristus oleh gereja Roma. Padahal, mereka tahu bahwa Bruno adalah seorang biarawan yang dikenal taat.
Selanjutnya, melalui pengadilan, Inkuisisi Roma menyatakan Bruno bersalah dan harus dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup di Campo de' Fiori, Roma.
Bruno benar-benar dieksekusi, pada 17 Februari 1600 dengan cara dibakar. Kala itu, masyarakat Roma menyaksikan secara langsung kematian sang ilmuwan besar.
Kematia Bruno dianggap sebagai sebuah tonggak sejarah pemikiran bebas dan kemunculan ilmu-ilmu sains terbaru.
Menurut sejarawan Frances Yates, Bruno adalah sosok pemikir yang dipengaruhi gagasan-gagasan Empedokles, Neoplantonisme, hingga Hermetisisme Renaisan.
Selain itu, Bruno tercatat sebagai seorang matematikawan yang menerapkan konsep spasial geometri untuk bahasa.
Redaktur : Ryan Virgiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
