Kisah Secangkir Kopi: Peneliti Ungkap Asal-Muasal Nenek Moyang Kopi Arabika
Washington, REQNews.com -- Banyak kata dalam Bahasa Inggris untuk menyebut kopi arabika; Joe, java (Jawa - red), mud (lumpur), brew (minuman), mocha (moka), dan your morning jolt (kejutan pagi Anda).
Java (Jawa) mengacu pada kopi yang ditanam di Pulau Jawa, yang dimulai di sebuah wilayah yang kini bernama Pondok Kopi, Jakarta Timur, lalu dikembangkan di Preanger, sampai terciptanya Preangerstelsel -- atau penanaman kopi secara paksa di dataran tinggi Jawa Barat.
Kata-kata lain untuk kopi arabika tercipta begitu saja, dan mengisi khasanah berbahasa untuk para peminum kopi di seluruh dunia.
Terlepas soal kata untuk menyebut kopi, baru-baru ini sejumlah peneliti mengungkap genom spesies Kopi Arabika, dan menelusuri asal-usulnya, hingga perkawinan alami antara dua spesies kopi lainnya sekitar 610 ribu sampai satu juta tahun lalu di hutan Ethiopia.
Penelitian itu membuktikan Kopi Arabika adalah spesies kopi tertua, bahkan lebih tua dari Homo sapiens -- nenek moyang manusia dalam Teori Darwin -- yang muncul di Afrika sekitar 300 ribu tahun lalu.
Dalam jurnal yang diterbitkan Nature Genetics, peneliti mengurutkan genom 39 varietas Kopi Arabika, termasuk spesimen dari abad ke-18 untuk menciptakan genom kualitas tertinggi dari spesies yang nama ilmiahnya Coffea arabica.
Peneliti juga menemukan wilayah genome tertentu, yang mungkin penting untuk pembiakan atau rekayasa genetika demi tercipta ketahanan terhadap penyakit.
Victor Albert, pakar biologi evolusi tanaman dari Universitas Buffalo di New York, mengatakan Kopi Arabika adalah salah satu tanaman komoditas utama dunia, mengambil alih sebagian besar perekonomian pertanian di negara-negara tanaman itu tumbuh.
Selama ratusan tahun Kopi Arabika menjadi bagian penting penghidupan pemangku kepentingan lokal. Tanaman ini tidak hanya ditanam dan dieksploitasi perusahaan besar tapi juga masyarakat biasa.
"Kopi Arabika adalah sumber kaya akan antioksidan dan kafein, yang membantu seluruh dunia tetap terjaga," kata Albert.
Penelitian menunjukan populasi Kopi Arabika naik-turun selama ribuan tahun, seiring pemanasan dan pendinginan iklim. Kopi Arabika kali pertama dibudidayakan penduduk di Ethiopia dan Yaman, lalu menyebar ke seluruh dunia.
"Kopi dan manusia berkaitan erat sepanjang sejarah," kata Patrick Descombes, pakar senior genomik di Nestle Research dan dosen di Swiss Federal Institute of Technology (EPFL). "Di banyak negara, kopi Arabika mewakili lebih dari sekedar tanaman. Kopi Arabika adalah bagian budaya dan tradisi."
Kopi Robusta
Kopi Arabika memiliki keragaman genetik yang rendah karena sejaran perkawinan sedarah dan ukuran populasi yang kecil. Spesies ini rentan hama dan penyakit, dapat dibudidayakan di sejumlah lokasi dengan iklim mendukung dan ancaman penyakit rendah.
Penelitian ini membuka jalan bagi pendekatan pemuliaan baru pada kopi, yang pada akhirnya mengarah pada pengembangan varietas baru yang tahan terhadap penyakit, perubahan iklim, dan kualitas (rasa) baru.
Arah penelitian ini menjadi penting karena kopi adalah minuman paling banyak dikonsumsi di dunia. Diperkirakan 2,25 miliar cangkir kopi dikonsumsi setiap hari di seluruh dunia. Kopi juga salah satu komoditas paling banyak diperdagangkan, dengan Kopi Arabika mewakili mayoritas produksi dunai.
Kopi Arabika, kata peneliti, terbentuk sebagai hibridisasi alami antara dua spesies induk; Coffea canephora dan Coffea eugenioides. Spesies canephora populer dengan sebutan Kopi Robusta, yang genome-nya diurutkan tahun 2014. Spesies eugenioides tumbuh di dataran tinggi Kenya.
Robusta umumnya digunakan dalam kopi instan. Kopi Arabika dianggap memiliki rasa yang unggul, lebih lembut dan halus. Kopi Robusta berasal dari hutan di Afrika khatulistiwa.
"Robusta dikenal karna tahan terhadap hama dan penyakit utama kopi," kata Descombes. "Robusta itu artinya 'kuat'."
Spesimen abad ke-18 yang diurutkan dalam penelitian ini berasal dari sampel yang disimpan di London, yang digunakan naturalis Swedia Carl Linnaeus untuk memberi nama spesies kopi itu.
"Kami dapat mengurutkan genom-nya, dan faktanya kami menemukan spesies ini tidak memiliki kekerabatan erat dengan varietas yang dibudidayakan saat ini," kata Albert.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
