Ketika Orang Belanda di Batavia Mandi Pakai Putih Telur dan Jeruk Nipis
Jakarta, REQNews.com -- Orang Eropa mengenal sabun sejak zaman Romawi, tapi kebiasaan itu menghilang di abad pertengahan karena mandi adalah sesuatu yang menakutkan. Mandi, demikian menurut sejarah, dianggap menularkan penyakit.
Era Perang Salib, antara abad ke-11 dan 13, memperkenalkan kembali orang Eropa dengan mandi dan sabun. Dunia Islam mengajarkan mereka membersihkan badan dengan sabun minyak zaitun untuk kebersihan kulit.
Abad ke-16 dan 17, sabun beraroma -- yang diproduksi di Aleppo -- menjadi tren di kalangan bangsawan Eropa. Di kamar mandi dan westafen orang kaya Eropa selalu tersedia sabun, yang dibuat berdasarka teknologi yang dibawa dari Aleppo.
Namun, orang kulit putih dan Belanda di Hindia-Belanda tak mengenal sabun. Mereka tak membawa sabun dari Eropa, dan sampai sekian lama tak pernah memproduksi sabun di tanah jajahan.
Muncul pertanyaan tentang cara mandi dan pembersih yang digunakan orang kulit putih dan Belanda di Batavia era VOC.
Ernst Christoph Barchewitz, pengelana Jerman yang berkeliling Batavia tahun 1711, mengunjungi sejumlah pemandian umum di taman-taman kebun sepanjang Jacatraseweg, kini Jl Pangeran Jayakarta. Dalam Oost-Indianische Reise-Beschreibung yang diterbitkan 1930 ia menulis; bagian bawah rumah-rumah kecil (tempat mandi umum - red) dilapisi ubin termbikar yang indah. Tempat mandi umum itu terletak di Sungai Ciliwung, yang membuat siapa pun dapat mengambil air jernih dan bersih. Mandi tidak menggunakan sabun, tapi putih telur dn jeruk nipis, untuk membersihkan kulit dan rambut dari keringat."
Pemilik pemandian, demikian Christoph Barchewitz mencatat, hidup seperti pangeran di taman yang dihiasi nama, lambang keluarga atau pribadi, dan gerbang yang indah. Orang-orang kaya itu akan selalu mengundang pelancong dari Eropa untuk mengunjungi rumah dan tamannya. Harapan tuan rumah adalah pelancong menulis keindahan rumah dan taman dalam catatan perjalanan yang diterbitkan di Eropa.
Di antara pelancong terkenal terdapat Cornelis de Bruyn, yang banyak diundang administrator VOC. Ia menyambangi kediaman Gubernur Jenderal Joan van Hoorn di Struijswijk, kini Salemba, dan mencatat semua keindahan rumah pedesaan Van Hoorn dengan menggunakan kacamata pembesar.
Namun, dalam Reizen over Moskovie, door Versie en Indie, De Bruyn sama sekali tak bercerita tentang putih telur dan jerun nipis yang digunakan Van Hoorn untuk mandi. Ia seolah tak sempat menyambangi kamar mandi orang nomor satu di Hindia Belanda itu dan melihat apakah terdapat telur dan jeruk nipis untuk membersihkan kulit dan rambut.
De Bruyn juga menerima undangan Direktur Jenderal VOC Abraham van Riebeeck, dan Dewan Luar Biasa VOC Cornelis Chastelein untuk berkunjung ke rumah kebunnya di Tanam Abang dan Seringsing (Serengseng, Depok - red). Ia memenuhi dua undangan itu, tapi sama sekali tak mencatat kebiasaan mandi para petinggi.
Pelancong lainnya, seperti Johann Wolffgang Heijdt, lebih sibuk mengangkat keindahan Batavia dengan semua thuyn-nya ke dalam kanvas. Ia bercerita lewat gambar dan sedikit teks di bawahnya. Akibatnya, tidak ada informasi soal kebiasaan mandi para penggede yang sempat dicatat.
Ernst Christoph Barchewitz tampaknya menjadi satu-satunya pelancong yang mencatat kebiasaan mandi orang kulit putih dan Belanda di Batavia.
Redaktur : Teguh Setiawan
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
