REQNews.com

Rimba yang Terkoyak: Cerita Kelam dari Tesso Nilo, Pertaruhan Sawit Ilegal vs Habitat Gajah

News

Tuesday, 25 November 2025 - 12:00

Selamatkan gajah (foto : Freepik/byrdyak)Selamatkan gajah (foto : Freepik/byrdyak)

RIAU, REQNews — Di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, pagi selalu datang bersama suara ranting patah. Dari kejauhan, langkah berat itu terdengar seperti detak jantung rimba yang tersisa. Seekor gajah sumatra betina muncul perlahan di balik semak, diikuti anaknya yang masih mungil. Mereka bergerak pelan, seakan tahu bahwa setiap langkah kini bukan lagi perjalanan, melainkan pertaruhan.

Di hutan yang dulu menjadi salah satu kantong gajah terluas di Sumatra ini, ruang hidup kian tergerus. Tesso Nilo yang secara resmi ditetapkan sebagai taman nasional pada 2004 pernah menjadi surga bagi lebih dari 200 ekor gajah. Kini, menurut berbagai lembaga konservasi, populasinya sulit mencapai separuhnya.

Nama, Taman Nasional Tesso Nilo kembali mencuat ke permukaan, bukan karena kabar baik, melainkan peringatan keras tentang masa depan yang kian menggelap. Keputusan Komisi XIII DPR RI menolak rencana relokasi warga dari dalam kawasan dengan alasan berpotensi melanggar hak asasi manusia justru membuka dilema baru yang lebih kompleks, bagaimana menyelamatkan hutan yang tinggal 16 persen dari luas aslinya, sementara gajah dan harimau sumatera semakin dekat ke jurang kepunahan.

Di markas kecil Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Kepala Balai, Heru Sutmantoro, tak menutup-nutupi betapa rapuhnya kawasan konservasi itu saat ini. “Kondisinya sangat memprihatinkan,” ujarnya. Pernyataan itu bukan hiperbola. Data resmi menunjukkan sekitar 40.469 hektare, lebih dari separuh bentang taman nasional, telah berubah menjadi kebun kelapa sawit ilegal. Deforestasi tak lagi berlangsung sembunyi-sembunyi, mesin-mesin pembuka lahan bekerja tanpa rasa salah di kawasan yang secara hukum dilindungi.

Hilangnya hutan berarti hilangnya rumah bagi para penghuni aslinya. Gajah sumatera adalah yang paling merasakan dampaknya. Forum Konservasi Gajah Indonesia mencatat lebih dari 60 persen kawasan hutan telah rusak, memutus jalur jelajah, merampas sumber pakan, dan merusak struktur sosial kawanan. Tanpa ruang untuk bergerak, gajah turun ke kebun warga, memicu konflik yang akhirnya berujung pada kematian.

Populasi gajah sumatera di seluruh Indonesia diperkirakan tinggal kurang dari seribu ekor. Angka yang pernah dipublikasikan pada 2017 menyebut populasi tersisa 1.694–2.038 individu, namun para ahli yakin jumlah itu kini jauh lebih kecil. Di Tesso Nilo saja, 23 ekor gajah mati sejak 2015 hingga Juni 2025. Penyebabnya beragam, jerat, racun, hingga kematian akibat konflik berkepanjangan.

“Kerusakan habitat adalah akar persoalan,” tegas Kepala BBKSDA Riau, Supartono. Ketika hutan menghilang, gajah tak punya pilihan selain mendekati permukiman manusia. “Mereka kehilangan ruang, kehilangan makanan, kehilangan segala hal yang membuat mereka bisa hidup.”

Kayu-kayu besar yang tumbang bukan lagi pemandangan mengejutkan. Dalam dua dekade terakhir, Tesso Nilo berubah menjadi mosaik timpang, hutan primer tersisa di satu sisi, sementara di sisi lain hamparan kebun sawit ilegal merangsek hingga ke jantung taman nasional. Dari udara, garis batas itu terlihat seperti irisan paksa jejak ekspansi perkebunan yang menggerus habitat gajah centi demi centi.

Di sela patroli, petugas kerap menemukan bekas jerat. Ada yang sudah dilepas, ada yang masih terpasang. “Kadang kami datang terlambat,” kata seorang ranger yang sudah bertugas lebih dari sepuluh tahun. Ia menyebut beberapa kasus gajah ditemukan mati dengan kaki membusuk akibat jerat kawat. Wajahnya mengeras saat bercerita, seperti menyimpan kemarahan yang tak lagi punya tempat untuk diletakkan.

Konflik pun menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Ketika rumah mereka menyempit, gajah-gajah itu bergerak ke kebun warga, merobohkan tanaman, dan membuka jalan setapak baru. Di Air Putih, Lubuk Kembang Bunga, dan dusun-dusun lain yang berdampingan dengan Teso Nilo, malam sering berubah menjadi penjagaan dadakan. Warga menyalakan petasan, membakar obor, atau memukul seng demi mengusir kawanan gajah yang tersesat.

Namun yang tersesat sesungguhnya bukan gajah itu. Melainkan batas antara hutan yang semestinya dilindungi dan wilayah ekonomi yang tak terkendali. Batas itu kabur, hilang perlahan di tengah kelonggaran pengawasan dan tumpang tindih konsesi.

Pada 2021, pemerintah berjanji menata ulang kawasan Teso Nilo. Ribuan hektare kebun sawit ilegal disebut akan direstorasi. Namun di lapangan, restorasi berjalan lambat, seperti langkah gajah yang kelelahan. Sebagian pemilik kebun justru menanam ulang setelah panen ditebang. Sementara itu, gajah tak pernah berhenti berjalan. Setiap hari, mereka harus mencari jalur yang masih aman.

Ahli konservasi menyebut Teso Nilo adalah “titik kritis”. Jika hutan yang tersisa tak lagi mampu menopang hidup gajah, maka populasi yang ada sekarang bisa berada di ujung nasibnya. Gajah sumatra adalah spesies kunci: hilangnya mereka berarti hilangnya kemampuan ekosistem untuk pulih secara alami.

Menjelang sore, matahari meredup di balik sisa kanopi hutan. Kawanan kecil gajah melintas menuju sungai. Seekor jantan muda berhenti sejenak, mengendus udara yang membawa campuran bau hutan dan aroma sawit. Ia tidak tahu bahwa batas antara keduanya adalah hasil keputusan manusia, bukan alam.

Di Teso Nilo, gajah terus hidup dalam ruang yang semakin menyempit. Dan selama hutan ini merana, nasib mereka pun akan tetap beriringan, bertahan, sambil perlahan tersingkir.

Di tengah situasi genting ini, penolakan relokasi warga menempatkan negara pada persimpangan sulit. Di satu sisi, relokasi tanpa jaminan keadilan akan menabrak prinsip HAM. Di sisi lain, membiarkan ratusan keluarga tinggal di dalam kawasan yang telah rusak mempersempit peluang pemulihan hutan yang bahkan kini tak lagi utuh.

Dibutuhkan kebijakan yang melampaui pendekatan administrative, kepemimpinan yang sanggup memberikan solusi win-win, bukan sekadar menunda konflik. Tesso Nilo tidak hanya kehilangan pepohonan, ia kehilangan masa depan. Tanpa langkah besar dan cepat, kawasan pelindung terakhir gajah dan harimau sumatera ini bisa menjadi catatan kaki dalam sejarah konservasi Indonesia.

Dan ketika itu terjadi, yang hilang bukan hanya hutan, tetapi juga makhluk besar yang selama ribuan tahun menjaga ritme rimba, gajah yang kini berdiri di ambang ketidakberadaan.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.