Washington Berpaling? Trump Desak Israel Menahan Diri Terhadap Suriah
WASHINGTON, REQNews - Percakapan telepon antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan ini mengungkap arah baru dalam hubungan kedua negara. Untuk pertama kalinya, Trump secara eksplisit meminta Israel menahan diri terhadap Suriah di bawah Presiden Ahmad Al Sharaa, posisi yang jarang, bahkan nyaris tak pernah, diucapkan seorang presiden Amerika.
Laporan ini pertama kali diungkap oleh portal berita Axios, yang mengutip sumber di Gedung Putih. Menurut laporan tersebut, perbincangan kedua pemimpin awalnya fokus pada kondisi gencatan senjata di Gaza. Netanyahu, seperti biasa, menegaskan Israel telah berupaya menjaga ketenangan, meski data menunjukkan sebaliknya, lebih dari 350 warga Gaza tewas dan Israel tercatat melakukan hampir 500 pelanggaran gencatan senjata sejak 10 Oktober.
Namun arah pembicaraan berubah ketika Trump menyinggung serangan Israel di Suriah. Presiden AS itu, menurut sumber, memberi peringatan langsung agar Israel tidak memperkeruh situasi dengan Damaskus. Ia meminta Netanyahu mengurangi operasi militer yang berpotensi memicu ketegangan baru di kawasan.
Seorang pejabat AS yang mengetahui isi percakapan itu mengatakan nada bicara Netanyahu sempat berubah ketika mendapat arahan tersebut—indikasi bahwa permintaan Trump tidak sepenuhnya sejalan dengan kalkulasi strategis Israel.
Trump, yang selama ini dikenal memberi ruang luas bagi Israel dalam hampir semua manuver militernya, kali ini mengambil posisi berbeda. Ia meminta Negeri Bintang Daud “membangun dialog jujur” dengan Damaskus dan menghindari tindakan yang dapat menghalangi “masa depan Suriah yang sejahtera”.
Bagi banyak analis, ucapan Trump adalah sinyal perubahan kebijakan Washington. Di tengah ketegangan Gaza dan dinamika regional yang mudah terbakar, Trump tampaknya ingin menghindari potensi pembukaan front baru. Seruan agar Israel “bersantai”, menurut pengamat, adalah upaya mencegah eskalasi di saat Timur Tengah berada dalam pusaran konflik berlapis.
Di pihak Israel, permintaan ini menghadirkan dilema. Selama bertahun-tahun, Suriah dianggap ancaman strategis akibat kehadiran Iran dan jaringan militernya. Kini, mitra terkuat mereka sendiri justru meminta langkah yang lebih hati-hati.
Langkah Trump sekaligus memperlihatkan bahwa Washington mungkin sedang merumuskan ulang pendekatan geopolitiknya. Sementara itu, Netanyahu yang selama ini mengandalkan strategi agresif terhadap musuh-musuh regional perlu menyesuaikan diri. Dengan Gaza yang masih membara dan Suriah yang tetap rapuh, perubahan arah ini dapat menjadi penanda fase baru politik luar negeri Amerika di Timur Tengah.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.