Serangan AS dan Israel ke Iran Picu Krisis Energi Global, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak
JAKARTA, REQNews - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu 28 Februari 2026.
Operasi udara tersebut menargetkan fasilitas militer, instalasi rudal, serta sejumlah lokasi strategis di Teheran. Pemerintah Iran mengecam serangan itu sebagai agresi ilegal yang melanggar kedaulatan negara dan Piagam PBB.
Perkembangan ini terjadi setelah perundingan nuklir tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 26–27 Februari 2026, berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan dialog tersebut disebut menjadi pemicu utama meningkatnya ketegangan. Tidak lama setelah serangan terjadi, Iran mengancam meluncurkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan, sehingga meningkatkan eskalasi menjadi konflik regional terbuka.
Situasi semakin memanas ketika Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Melalui pesan radio kepada kapal-kapal yang melintas, otoritas setempat menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati selat tersebut. Langkah ini dipandang sebagai tekanan geopolitik terhadap negara-negara Barat menyusul serangan militer yang dipimpin Washington dan Tel Aviv.
Penutupan Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran global. Jalur laut sempit tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas setiap hari. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada rantai pasok energi internasional.
Sejumlah perusahaan minyak, operator kapal tanker, dan perusahaan perdagangan energi dilaporkan menunda atau menghentikan sementara pengiriman minyak dan gas melalui kawasan tersebut. Beberapa kapal LNG dan tanker minyak memperlambat perjalanan atau berbalik arah di sekitar Teluk Persia. Negara-negara Barat juga memperingatkan kapal sipil untuk menghindari wilayah itu.
Penutupan wilayah udara di Iran, Israel, Qatar, dan beberapa negara Teluk turut memperparah situasi. Gangguan transportasi dan logistik diperkirakan akan memengaruhi distribusi energi global. Harga minyak dunia diprediksi melonjak dalam 24–48 jam ke depan dan berpotensi menyentuh level tertinggi sejak 2022 apabila situasi tidak segera mereda.
Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, dampaknya dinilai signifikan. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, dan Dexlite berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Selain itu, inflasi diperkirakan meningkat, terutama pada komponen transportasi dan bahan pangan impor.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan penyesalan atas gagalnya dialog damai tersebut.
"Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah," tulis Kemlu RI di akun X resmi, Sabtu 28 Februari 2026.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk berperan dalam upaya mediasi. Ia bahkan menyampaikan kemungkinan untuk bertolak ke Teheran apabila langkah tersebut disetujui oleh kedua belah pihak.
Kemlu RI juga mengimbau warga negara Indonesia (WNI) di wilayah terdampak konflik untuk meningkatkan kewaspadaan. Tercatat sekitar 329 WNI berada di Iran dan menghadapi keterbatasan mobilitas akibat penutupan wilayah udara.
Situasi di Timur Tengah masih berkembang dan berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan serta perekonomian global dalam beberapa hari ke depan.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
