11 Tahun Mengajar, Guru SD di Sikka Hanya Terima Rp150 Ribu per Bulan
SIKKA, REQnews - Yustina Yuniarti, seorang guru honorer di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, telah mengabdikan dirinya untuk mengajar siswa kelas V sejak tahun 2016. Selama kurang lebih 11 tahun, ia tetap bertahan meski menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses menuju sekolah hingga penghasilan yang sangat minim.
Setiap hari, Yustina harus berangkat lebih awal agar bisa tiba tepat waktu di sekolah. Dari rumahnya, ia sempat menumpang kendaraan roda dua milik warga yang melintas. Namun, perjalanan tidak berhenti di situ. Setibanya di pinggiran Kampung Sikka, ia masih harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh sekitar 6 kilometer. Jalur yang dilalui pun tidak mudah berupa jalan berbatu, perbukitan, hutan, bahkan harus menyusuri area di pinggir jurang dan pantai karena itu merupakan satu-satunya akses menuju sekolah yang berada di wilayah selatan Kabupaten Sikka.
Medan yang terjal dan kondisi jalan yang rusak membuatnya kerap harus berhenti sejenak untuk beristirahat. Ia bahkan hanya menggunakan sandal jepit saat menempuh perjalanan tersebut. Meski penuh risiko, semangatnya untuk mengajar tidak pernah surut.
“Saya mengajar di SDK Wukur ini sudah 11 tahun. Saya tinggal di Sikka, jadi setiap pagi saya berjalan kaki menuju sekolah melewati jalan berbatu, rusak, hutan, bahkan pantai. Jaraknya sekitar 6 kilometer,” ujarnya, Sabtu, 2 Mei 2026.
Di balik perjuangannya, Yustina hanya menerima gaji sebesar Rp150 ribu per bulan yang bersumber dari iuran komite sekolah. Ia mengungkapkan bahwa pada awal mengabdi, honor yang diterimanya bahkan hanya Rp15 ribu per bulan, sebelum akhirnya meningkat menjadi Rp150 ribu.
“Gaji kami Rp150 ribu per bulan dari komite. Kami tidak mendapat gaji dari dana BOS. Banyak orang tidak mau mengajar di daerah terpencil seperti ini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan,” jelasnya.
Meski demikian, ia tetap bertahan dengan satu tujuan, yakni mencerdaskan anak-anak di daerah terpencil. Ia menyadari tidak semua orang bersedia menjalani tantangan tersebut, baik dari sisi akses maupun kesejahteraan.
Yustina berharap sekolah tempatnya mengajar dapat segera dinegerikan agar lebih banyak guru bersedia datang dan mengajar. Ia juga berharap adanya perhatian dari pemerintah terhadap kesejahteraan guru honorer, termasuk penyediaan rumah bagi tenaga pendidik yang tinggal jauh dari sekolah serta prioritas bagi mereka jika dibuka seleksi CPNS.
Harapan serupa juga ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kondisi pendidikan di wilayah terpencil seperti Kabupaten Sikka.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDK Wukur, Tersiana Siti Rosa, menjelaskan bahwa saat ini sekolah memiliki 34 siswa dengan total 8 tenaga pendidik. Dari jumlah tersebut, hanya satu orang yang berstatus ASN, sedangkan tujuh lainnya merupakan guru honorer dengan penghasilan Rp150 ribu per bulan dari iuran komite dan bantuan terbatas.
“Jumlah murid 34 orang dan tenaga pendidik 8 orang. ASN hanya satu orang, sedangkan tujuh lainnya honorer dengan gaji Rp150 ribu,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa honor tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, terlebih bagi guru yang sudah berkeluarga. Namun, dedikasi yang tinggi membuat para guru tetap menjalankan tugas mereka.
“Honor tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhan mereka, tetapi karena semangat mengabdi, mereka tetap bertahan mengajar,” ujarnya.
Selain persoalan kesejahteraan, keterbatasan fasilitas juga menjadi tantangan. Sekolah kekurangan ruang kelas sehingga harus menyiasatinya dengan membuat sekat, agar satu ruangan dapat digunakan oleh dua kelas sekaligus demi kelangsungan kegiatan belajar mengajar.
Redaktur : Giftson Ramos Daniel
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.