Tokoh Gereja Bertemu JK, Begini Tanggapan GAMKI
JAKARTA, REQNews — Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) memberikan tanggapan atas pertemuan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Jacklevyn Manuputty dan Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Victor Tinambunan dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla. Pertemuan tersebut dinilai sebagai langkah dialog yang patut dihormati di tengah polemik yang berkembang.
GAMKI menyatakan menghargai inisiatif komunikasi yang dilakukan para pimpinan gereja tersebut. Organisasi kepemudaan ini menilai dialog menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan yang konstruktif sekaligus meredam potensi kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Kuasa hukum GAMKI, Saddan Sitorus, mengajak masyarakat untuk tetap menjaga etika dalam menyampaikan pendapat, terutama di ruang publik yang rentan memicu perdebatan.
“GAMKI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga etika dalam menyampaikan pendapat serta tidak melakukan serangan personal terhadap pihak mana pun. Ruang publik harus dijaga agar tetap sehat, rasional, fokus membahas substansi, dan tidak terjebak pada polarisasi,” kata Saddan, Senin 4 Mei 2026.
Di sisi lain, GAMKI menegaskan bahwa langkah hukum yang ditempuh bersama sejumlah lembaga tetap menjadi bagian dari upaya meluruskan persoalan yang dinilai berpotensi menimbulkan tafsir keliru.
“Laporan yang dilakukan GAMKI bersama lembaga-lembaga lainnya bagian dari meluruskan sesuatu yang keliru. Karena ucapan Bapak Jusuf Kalla bisa disalahartikan bukan saja oleh umat Kristen, tetapi juga agama lainnya. Hal ini yang ingin kita koreksi dan luruskan,” ujarnya.
Menurut GAMKI, pendekatan melalui jalur hukum juga dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya polemik yang lebih luas di masyarakat. Jika tidak ditangani secara tepat, isu tersebut dikhawatirkan dapat memicu kegaduhan berkepanjangan di ruang publik.
"Kita tidak mau persoalan ini menjadi bahasan liar di media sosial dan ruang publik. Maka dari itu, kita fokus ke proses hukum yang mengedepankan kesetaraan, keadilan substantif, dan pemulihan,” katanya.
Lebih lanjut, GAMKI mengingatkan bahwa perbedaan pandangan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menyerang. Sebaliknya, perbedaan tersebut perlu disikapi sebagai bagian dari proses pendewasaan demokrasi dan penguatan persatuan.
“Maka walaupun masih ada perbedaan pandangan terkait persoalan ini, GAMKI mengajak kita tetap menghormati para tokoh kita, Bapak Jusuf Kalla, Ketum PGI, Ephorus HKBP, dan para tokoh lainnya. Fokus kepada substansi persoalan, tidak menyerang personal dan hindari polarisasi di media sosial ataupun ruang publik,” tuturnya.
Sebelumnya, Jusuf Kalla telah memberikan penjelasan terkait pernyataannya mengenai istilah “mati syahid” dalam ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memicu polemik. Ia menegaskan bahwa penggunaan istilah tersebut disesuaikan dengan konteks audiens.
"Kalau syahid mati karena membela agama, martir juga begitu mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja, saya di masjid maka saya pakai kata syahid karena kalau saya pakai kata martir jemaah tidak tahu," kata Jusuf Kalla dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu 18 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa ceramah tersebut disampaikan dalam rangka kegiatan bulan Ramadan dengan tema perdamaian, di mana dirinya diundang sebagai narasumber untuk membahas berbagai konflik global dan pentingnya perdamaian.
"Jadi, saya ingin jelaskan tentang di UGM itu, acara di UGM itu, acara ceramah bulan puasa dilakukan di masjid, saya diundang datang karena temanya perdamaian. Saya jelaskan tentang perdamaian, perdamaian adalah akhir dari konflik, apa itu konflik, akhir dari perdamaian. Kemudian mulai konflik dunia ini, konflik di Eropa, perang dunia pertama saya uraikan," jelasnya.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.