REQNews.com

Lebih dari 1.000 Kasus Terdeteksi, WHO Sebut Ebola Bergerak Lebih Cepat dari Upaya Menghentikannya

News

Kamis, 28 Mei 2026 - 17:03

Ilustrasi kasus pasien terkena virus mematikan (Foto:Istimewa)Ilustrasi kasus pasien terkena virus mematikan (Foto:Istimewa)

KONGO, REQNews — Di sejumlah rumah sakit darurat di wilayah timur Republik Demokratik Kongo, para tenaga kesehatan bekerja tanpa banyak jeda. Pasien terus berdatangan, sementara ruang isolasi semakin penuh. Di luar rumah sakit, ketakutan perlahan menyebar bersama kabar tentang virus mematikan yang kembali mengancam Afrika Tengah.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) kini memperingatkan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo berkembang lebih cepat dibanding kemampuan pengendalian di lapangan. Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap ancaman krisis kesehatan global.

Hingga akhir Mei 2026, lebih dari 1.000 kasus Ebola telah terdeteksi di kawasan Afrika Tengah. Sedikitnya 220 orang dilaporkan meninggal dunia hanya dalam beberapa pekan terakhir.

Direktur Jenderal WHO, dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan komunitas internasional tengah berpacu dengan waktu untuk membendung penyebaran virus.

“Kami sedang meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini epidemi menyebar lebih cepat daripada kemampuan kami untuk mengendalikannya,” kata Tedros dalam pertemuan Uni Afrika, dikutip dari Daily Mail, Kamis 28 Mei 2026.

Wabah kali ini disebut menjadi salah satu penyebaran tercepat sejak epidemi besar Ebola tahun 2014 di Afrika Barat yang menelan lebih dari 11.000 korban jiwa. Kondisi terbaru bahkan telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan global.

Sebagian besar kasus ditemukan di Kota Bunia, wilayah timur Kongo. Pemerintah setempat menghentikan seluruh penerbangan menuju dan dari kota tersebut untuk menekan potensi penyebaran virus ke daerah lain.

Di tengah kondisi darurat, risiko tidak hanya mengintai pasien. Tiga relawan Palang Merah dilaporkan meninggal dunia setelah diduga tertular ketika menangani jenazah korban Ebola. Kini proses pemakaman harus dilakukan tim medis khusus karena tingginya risiko penularan.

Direktur Medis Mongbwalu General Referral Hospital, dr Richard Lokodu, mengungkapkan rumah sakit bahkan sempat diserang warga yang ingin mengambil jenazah anggota keluarga mereka untuk dimakamkan sendiri.

Di sejumlah wilayah, penanganan wabah juga menghadapi tantangan lain. Sebagian kelompok masyarakat masih tidak percaya Ebola benar-benar ada dan menganggap wabah tersebut sebagai rekayasa atau hoaks. Penolakan itu memicu konfrontasi dengan petugas kesehatan dan relawan kemanusiaan.

Sementara itu, sejumlah negara mulai memperketat kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebaran lintas negara. Amerika Serikat meningkatkan pemeriksaan penumpang di bandara setelah seorang dokter asal AS dinyatakan positif Ebola sepulang dari wilayah terdampak.

Di Italia utara, dua pekerja kemanusiaan yang baru kembali dari Uganda sempat diduga terinfeksi Ebola. Namun hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan keduanya negatif.

Di tengah situasi tersebut, harapan kini tertuju pada pengembangan vaksin baru. Tim ilmuwan dari Universitas Oxford tengah mengembangkan vaksin untuk varian Bundibugyo, jenis Ebola yang memicu wabah kali ini.

Varian tersebut diketahui memiliki tingkat kematian hingga 50 persen. Namun para peneliti memperkirakan vaksin baru dapat mulai diuji pada manusia dalam dua hingga tiga bulan ke depan, sehingga belum bisa digunakan secara luas dalam waktu dekat.

Gejala Ebola varian Bundibugyo biasanya dimulai dari demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, hingga diare. Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami pendarahan internal, gagal organ, dan berujung kematian.

Virus ini juga dikenal mampu bertahan dalam tubuh hingga 21 hari sebelum gejala muncul, yang membuat penularan sulit dideteksi pada tahap awal.

Pemerintah Inggris telah mengumumkan bantuan sebesar 20 juta pound sterling untuk membantu penanganan wabah di Kongo. Inggris juga mulai mengaktifkan sistem pemantauan bagi tenaga kesehatan yang kembali dari wilayah wabah.

Pakar penyakit menular dari Universitas St Andrew’s, dr Derek Sloan, mengatakan situasi ini menjadi pengingat bahwa wabah penyakit menular tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan lokal semata.

“Wabah penyakit menular di dunia yang saling terhubung seperti sekarang tidak bisa dianggap sebagai masalah negara lain semata,” ujarnya.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.