REQNews.com

Pesawat Tempur F-15E Amerika Tumbang di Langit Iran, Asal Rudal Masih Diselidiki

News

Senin, 01 Juni 2026 - 10:00

Ilustrasi Penerbangan Pesawat Tempur F-15 (Foto:Istimewa)Ilustrasi Penerbangan Pesawat Tempur F-15 (Foto:Istimewa)

WASHINGTON, REQNews — Sebuah insiden yang jarang terjadi dalam sejarah militer modern Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS dilaporkan ditembak jatuh saat konflik dengan Iran pada April lalu, memicu operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran di wilayah musuh.

Laporan NBC News yang dikutip pada Senin, 1 Juni 2026, menyebutkan tiga pejabat AS mengungkapkan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap secara pasti bagaimana pesawat tempur tersebut bisa jatuh. Salah satu fokus utama penyelidikan adalah dugaan penggunaan rudal buatan China yang diluncurkan dari sistem pertahanan udara portabel yang dipanggul di bahu.

Insiden itu menjadi perhatian khusus karena merupakan kali pertama dalam beberapa dekade terakhir sebuah jet tempur Amerika ditembak jatuh oleh pihak musuh dalam situasi pertempuran.

Di tengah situasi yang penuh risiko, kedua awak pesawat berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar. Namun perjuangan mereka belum berakhir. Sang pilot berhasil ditemukan dan dievakuasi sekitar tujuh jam setelah insiden terjadi. Sementara itu, kopilot yang juga bertugas sebagai operator sistem persenjataan harus bertahan lebih lama.

Ia dilaporkan bersembunyi di kawasan kaki Pegunungan Zagros selama dua hari sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh pasukan AS yang melakukan operasi pencarian intensif.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengungkapkan bahwa pesawat F-15E tersebut terkena rudal yang ditembakkan dari peluncur portabel yang dibawa oleh personel di darat. Senjata jenis ini dikenal sebagai man-portable air-defense systems (MANPADS) atau sistem pertahanan udara portabel.

Dengan panjang sekitar satu meter dan berat mendekati 20 kilogram, MANPADS dikenal sebagai salah satu senjata yang relatif murah namun efektif untuk menyerang pesawat yang terbang pada ketinggian rendah.

Munculnya dugaan bahwa rudal yang digunakan berasal dari China turut memunculkan pertanyaan di Washington. Namun saat dimintai tanggapan mengenai laporan tersebut, Gedung Putih kembali merujuk pada pernyataan Trump setelah pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping bulan lalu.

“Presiden Xi telah berjanji kepada saya bahwa dia tidak akan mengirim senjata apa pun ke Iran. Itu janji yang indah. Saya memercayainya. Saya menghargainya," kata Trump.

Pemerintah China juga membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington DC menegaskan bahwa Beijing menjalankan pengawasan ketat terhadap ekspor produk militernya dan mematuhi aturan internasional yang berlaku.

"China menerapkan kontrol ketat sesuai dengan hukum dan peraturan tentang kontrol ekspor dan kewajiban internasional yang berlaku. China menentang fitnah tanpa dasar dan asosiasi yang bermaksud buruk," katanya.

Hingga kini, otoritas AS masih berupaya mengungkap asal-usul rudal yang digunakan dalam penembakan tersebut. Hasil penyelidikan diperkirakan akan menjadi penentu apakah insiden itu hanya bagian dari eskalasi konflik regional atau berkembang menjadi isu diplomatik yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.