REQNews.com

Mengenang Mbah Maridjan, Sang Juru Kunci Merapi yang Legendaris dan Pembantu Setia Sultan Hamengkubuwana IX

Profil

Wednesday, 26 October 2022 - 20:30

Mendiang Mbah MaridjanMendiang Mbah Maridjan

JAKARTA, REQnews - Tanggal 26 Oktober 2010, tepat 12 tahun lalu menjadi hari yang tak akan terlupakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya warga di lereng Merapi.

Sebab, kala itu erupsi dahsyat Gunung Merapi terjadi hingga meluluhlantakkan wilayah permukiman penduduk dan menewaskan ratusan orang, termasuk sang juru kunci yang legendaris, Mbah Maridjan.

Saat kejadian Mbah Maridjan menolak untuk dievakuasi lantaran ingin menepati janjinya kepada Sultan HB IX untuk terus menjaga Merapi hingga akhir hayat.

Mbah Maridjan pun memutuskan untuk tetap tinggal di rumahnya di Desa Kinahrejo, saat seluruh keluarganya dan penduduk lain mengungsi.

Alhasil, nyawanya pun direnggut awan panas Merapi. Mbah Maridjan ditemukan meninggal di dapur rumahnya dan ditemukan pada Rabu, 27 oktober 2010 dalam posisi bersujud.

Profil Mbah Maridjan

Mbah Maridjan atau Mas Panewu Suraksohargo adalah juru kunci atau penjaga spiritual Gunung Merapi. Ia menikah dengan Ponirah dan memiliki sepuluh anak, lima di antaranya meninggal dunia. Dari kelima anaknya, Mbah Maridjan memiliki sebelas cucu dan enam cicit. Bersama keluarganya, Mbah Maridjan tinggal di Dusun Pelemsari, Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Yogyakarta, yang berada di kawasan lereng Gunung Merapi sebelah selatan.

Sebagai orang tua, Mbah Maridjan tidak hanya dihormati dan menjadi panutan karena usianya melainkan karena kearifan dan kelebihan (linuwih) yang ada padanya. Ia kerap melakukan laku prihatin dan percaya bahwa di Gunung Merapi ada penguasa (bahureksa) yang berdiam di sana dan aktivitas Gunung Merapi terkait dengan aktivitas penguasa tersebut.

Perjalanan hidup Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi dimulai pada tahun 1950. Saat itu, awalnya Mbah Maridjan merupakan wakil juru kunci yang dijabat oleh ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, Mbah Maridjan diangkat menjadi juru kunci pada tahun 1983 oleh Sri Sultan Hamengkubuwana X dengan gelar Mas Panewu dan sebutan Suraksohargo. Secara harfiah, gelar dan sebutan ini berarti penunggu gunung yang memiliki tugas khusus melaksanakan upacara pemberian sesaji (labuhan).

Sebagai juru kunci dan juru bersih-bersih (juru reresik), Mbah Maridjan dipercaya bisa berkomunikasi dengan penunggu Gunung Merapi, yang merupakan salah satu gunung suci bagi masyarakat Jawa. Setiap tahunnya, Mbah Maridjan memimpin upacara pemberian sesaji untuk makhluk halus yang berdiam di Gunung Merapi, ke dalam dan di sekitar kawah. Pemberian sesaji ini dimaksudkan untuk menghormati keberadaan makhluk gaib di Gunung Merapi, ungkapan syukur atas berkah yang diberikan alam dan doa untuk keselamatan serta kesejahteraan seluruh warga.

Para penduduk yang tinggal di lereng Merapi percaya bahwa Mbah Maridjan akan mendapatkan penglihatan atau pertanda jika erupsi akan terjadi. Saat erupsi Gunung Merapi pada tahun 2006, Mbah Maridjan menolak untuk dievakuasi. 

Bersama beberapa warga, ia pergi ke masjid desa saat Gunung Merapi mulai erupsi. Ia mengalami luka bakar serius akibat awan panas dan dirawat selama lima bulan di rumah sakit. Tindakan tersebut didasarkan pada rasa tanggung jawab dan pengabdiannya pada mandat sebagai juru kunci.

Namun, Mbah Maridjan akhirnya meninggal dunia pada tahun 2010, saat erupsi Gunung Merapi. Seperti sebelumnya, saat itu ia tetap memilih tinggal di dusunnya meski aktivitas Gunung Merapi mengalami peningkatan. Ia meninggal terkena awan panas Merapi yang juga menghancurkan permukiman warga di lereng selatan.

 

 

Redaktur : Puri

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.