REQNews.com

Tikus Bambu Musnah, Dulu Hidangan Nikmat dengan Harga Selangit

The Other Side

Kamis, 23 April 2020 - 07:32

Tikus Bambu Musnah, Dulu Hidangan Nikmat dengan Harga Selangit (Foto: Istimewa)Tikus Bambu Musnah, Dulu Hidangan Nikmat dengan Harga Selangit (Foto: Istimewa)

BEIJING, REQnews - Sebelum wabah corona (COVID-19) merebak, masyarakat Cina suka mengkonsumsi tikus. Tapi tikusnya beda, bukan tikus jalanan melainkan tikus bambu.

Banyak yang mengatakan bahwa tikus bambu merupakan hidangan enak yang bernutrisi. Namun, tikus ini disebut sebagai salah satu pembawa virus Corona di sana.

Apa bedanya tikus jalanan dengan tikus bambu? Sebagai informasi, tikus bambu memiliki ukuran yang sangat besar dan dianggap menyehatkan bagi orang Cina. Meskipun terdengar menjijikan, tikus bambu ini diternak. Tercatat ada ribuan petani di seluruh wilayah Cina.

Dilansir dari Daily Mail UK, Kamis 23 April 2020, tikus bambu atau dikenal juga dengan nama 'zhu shu' dalam bahasa Mandarin bisa memiliki bobot mencapai 5 kg. Sejak ratusan tahun yang lalu tikus bambu sudah menjadi makanan enak di Cina.

Selain rasa daging yang enak, orang-orang di Cina percaya bahwa mengkonsumsi daging tikus bambu bisa mengeluarkan racun dari tubuh hingga meningkatkan kesehatan perut.

"Tikus yang bentuknya seperti kelinci ini banyak disantap orang dan rasanya mirip seperti bebek," jelas salah satu buku pengobatan tradisional China kuno, Ben Cao Gang Mu.

BACA JUGA: Heboh! Ada Ekor di Bungkusan Bakso, Rekaman CCTV Perlihatkan Seekor Tikus Nyemplung ke Dandang

Selama 400 tahun terakhir popularitas daging tikus bambu di China terus meningkat. Pada tahun 1990 banyak peternak yang mulai beternak tikus bambu.

Harga tikus bambu di China juga bersaing dengan ayam dan daging bab. Untuk satu pasang tikus bambu yang masih hidup harganya bisa mencapai 1,000 yuan (Rp 2,2 juta). Sementara untuk daging tikus yang sudah dibakar kisaran harga per kg nya sekitar 280 yuan (Rp 616,000).

Tentunya popularitas tikus bambu ini harus berakhir ketika pandemi virus Corona menyerang Cina dan seluruh dunia.

Meski belum ada penelitian lebih lanjut tentang hubungan tikus bambu dan virus corona, tapi banyak orang yang percaya bahwa tikus bambu bisa menjadi pembawa virus yang menularkan manusia.

"Sebenarnya hanya sedikit daging tikus bambu yang dijual di pasar tradisional. Kebanyakan daging ini dikirim langsung dari peternak menuju restoran atau tempat makan yang menjual hidangan eksotik," jelas Dokter Li dari Cina.

Banyak peternak tikus bambu yang merugi dan harus memusnahkan ratusan ribu tikus bambu karena tidak ada yang mau membelinya. Banyak juga yang beralih menjadi petani jamur.

Redaktur : Hans Gilbert Ericsson

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.