REQNews.com

Surat Diplomatik Dugaan Korupsi Kemenhan untuk Pembelian Pesawat Mirage Diragukan Keasliannya?

The Other Side

Tuesday, 13 February 2024 - 22:00

Ilustrasi Dugaan Korupsi Kemenhan untuk Pembelian Pesawat MirageIlustrasi Dugaan Korupsi Kemenhan untuk Pembelian Pesawat Mirage

JAKARTA, REQnews - Beberapa hari terakhir sempat viral di media sosial mengenai berita di media terkait GRECO yang tengah menyelidiki skandal pembelian 12 pesawat tempur Mirage 2000-5 dari Qatar oleh Kementrian Pertahanan RI. Pembelian pesawat tersebut diketahui disepakati senilai USD 792 juta atau sekira 12,3 triliun rupiah, dengan harga satuan USD 66 juta USD (sekitar 1,03 triliun rupiah). Dari cuplikan MSN, GRECO telah mengirimkan perwakilannya ke Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta pada 25 Januari 2024. Dalam keterangannya, EIO juga telah menggelar penyelidikan terhadap perusahaan asal Ceko yang menjembatani pembelian pesawat tempur Mirage 2000-5.

Disebutkan bahwa penyelidikan GRECO dan EIO berfokus pada transaksi bermasalah 12 pesawat tempur Mirage 2000-5 yang dibeli Kemenhan pada Januari 2023. Pada Januari 2024, juru bicara Menteri Pertahanan Dahnil Simanjuntak mengonfirmasi penundaan pembelian pesawat tempur ini. Keterbatasan fiskal dan upaya peningkatan terhadap pesawat F-16 yang dimiliki Indonesia menjadi alasannya.

Dalam dunia maya platform X (Twitter), akun anonim @P0c1_1m0eTWibu menuduh Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto melakukan korupsi dalam pengadaan pesawat Mirage 2000-5. Forum edukasi militer dengan akun @tweetmiliter pun membantah unggahan tersebut. Akun dengan 73 ribu pengikut terus meragukan keaslian dari dokumen yang diunggah tersebut.

Menurut cuitan @tweetmiliter, faktanya sampai saat ini pemerintah belum membeli pesawat tersebut. Tim akun ini mengungkap ada banyak kejanggalan dalam dokumen tersebut, mulai dari bahasa yang digunakan hingga fakta bahwa belum terjadinya transaksi pembelian dari Indonesia.

Penggunaan sintaks kalimat bahasa Inggris yang tidak terlihat seperti American-English, dan kemiripan kalimat yang tercantum dengan dokumen yang pernah terbit belasan tahun yang lalu.

"Ada temuan menarik mengenai "diplomatic cable" ini. Coba bandingkan 2 diplomatic cable yang terpisah hampir 15 tahun ini. Banyak sekali kesamaan kata-kata di dalamnya, terutama di bagian yg dilingkari," lanjut @tweetmiliter, sembari menyertakan bukti dalam unggahannya.

Mereka pun mengingatkan masyarakat, khususnya para pengikutnya untuk tidak mudah terpancing pada kabar tidak berdasar menjelang pemilihan presiden 2024 ini.

"Hati-hati ya, menjelang hari H pencoblosan, banyak disinformasi berkeliaran," kata akun tersebut.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Islam Bandung Muhammad Fuady mengatakan bahwa sebaran hoax di semua platform media sosial jelang perhelatan demokrasi memang selalu meningkat. Setiap pilpres dan pilkada, hoax dan fake news tumbuh seperti jamur di musim penghujan. Hadirnya media sosial baru seperti Tiktok juga menjadi wadah tumbuh berkembangnya hoax. Berbeda dengan X, biasanya netizen platform tersebut aktif memberikan bantahan terhadap hoax.

"Netizen mempercayai hoax yang muncul di beranda media sosial mereka secara berulang, terus menerus, dan massif sebagai sebuah kebenaran. Hanya melihat judul, tak mencermati konten dengan utuh, tanpa cek dan ricek, verifikasi sumber, netizen lakukan propagasi ke berbagai media, termasuk ke platform yang lebih personal seperti Whatsap," ungkapnya di Bandung, Selasa, 13 Februari 2024.

Inilah alasan mengapa literasi digital sangat penting. Fuady mengatakan bahwa sebenarnya mudah untuk mengenali hoax. Biasanya konten hoax mengabaikan sumber resmi, bersifat bombatis, sensasional, ekstrem, heroik, dan terdapat glorifikasi.

"Netizen sebaiknya tidak menjadikan media sosial sebagai rujukan utama. Jangan asal sebar, cermati terlebih dahulu. Netizen jangan malas mengakses media konvensional atau media mainstream yang sudah jelas diproduksi melalui proses jurnalistik yang ketat. Lakukan report ke pihak media sosial jika memang konten mengandung hoax agar tidak menyebar lebih luas," tandasnya. 

Redaktur : Puri

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.