Viral Kisah Haru Prof Sarjiya Dilantik Jadi Guru Besar UGM, Minta Maaf ke Adik yang Putus Sekolah Demi Dirinya
JAKARTA, REQnews - Beberapa waktu belakangan jagat maya dibuat terenyuh dengan viralnya kisah hidup mengharukan salah satu sosok profesor dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Adalah Prof Sarjiya, Dosen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM yang baru saja resmi dikukuhkan sebagai guru besar pada Kamis, 1 Februari 2024 lalu.
Momen pengukuhan Prof Sarjiya sebagai guru besar Fakultas Teknik UGM pun viral dan sukses menyita perhatian publik. Di momen itu Prof Sarjiya tak kuasa menahan tangis tatkala menyampaikan terima kasih dan permintaan maaf kepada kedua orangtuanya.
"Terima kasih sebesar-besarnya saya haturkan kepada orang tua saya, bapak Pujidiono almarhum dan ibu saya ibu Sumirah yang telah mengasuh, membesarkan, mendidik, memberikan keteladanan dan menumpahkan semua kasih sayang kepada saya," kata Prof Sarjiya sambil menahan tangis dilihat pada YouTube UGM, Minggu, 18 Februari 2024.
Prof Sarjiya berasal dari keluarga kurang mampu namun hal tersebut tak menyurutkan kegigihan dan semangatnya untuk bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
"Meskipun bapak almarhum dan ibu tidak bisa membaca menulis, tidak pernah merasakan bangku sekolah," ujarnya.
"Bahkan dengan pendapatan keluarga yang sangat terbatas di mana ayah almarhum sebagai buruh topong kambing dan ibu sebagai penjual gula jawa. Dengan berjalan menyusuri kota-kota Yogyakarta, bapak dan ibu waktu itu berani membuat keputusan untuk mengizinkan dan membiayai saya melanjutkan sekolah," lanjut Prof Sarjiya.
Tak sampai di situ saja, Prof Sarjiya juga mengungkapkan terima kasih kepada kakak dan asiknya yang ikut berkorban demi membantu perekonomian keluarga. Bahkan, kata dia, ada salah satu adiknya yang berkorban untuk tidak melanjutkan sekolah ke bangku SMA, agar dia mengejar cita-citanya kuliah di perguruan tinggi.
"Terimakasih juga kepada kakak-kakakku, mbak Yanti, mbak Gina, mbak Jenen, serta adikku Arsi Suparsih yang banyak berkorban dan ikut membantu perekonomian keluarga supaya saya bisa terus lanjut sekolah hingga jenjang perguruan tinggi," kata dia.
"Secara khusus saya memohon maaf kepada adik Suparsih yang pada waktu itu tidak bisa melanjutkan ke bangku SMA, meskipun dengan nilai ujian SMP yang sangat baik karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membiayai sekolah kita berdua," lanjutnya.
Mendengar pidato anaknya tersebut, Sumirah tak kuasa menahan tangis dan sesekali tampak mengusap air matanya.
Redaktur : Puri
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.