REQNews.com

Remaja di Bengkulu yang Dirudapaksa Kakak Kandung Sampai Hamil Diduga Alami Stockholm Syndrome, Ini Penjelasannya!

The Other Side

Wednesday, 27 March 2024 - 13:22

Gadis remaja korban rudapaksa kakak kandung di Bengkulu diduga alami Stockholm Syndrome.Gadis remaja korban rudapaksa kakak kandung di Bengkulu diduga alami Stockholm Syndrome.

JAKARTA, REQnews - Kisah pilu dialami seorang gadis remaja di Bengkulu. Ia dirudapaksa oleh kakak kandungnya sendiri sampai 3 kali hamil.

Namun, gelagat tak biasa ditunjukkan korban beirnisial R (16 tahun), ketika pelaku ditangkap dan hendak dibawa oleh kepolisian setempat.

R malah menangisi pelaku. Dia pun memeluk kakaknya itu dan mengatakan jika dirinya akan menunggu pelaku KH (21 tahun) agar segera pulang.

Melansir dari akun Instagram @nenktainment, melihat gelagat aneh korban itu, banyak yang menduga jika korban mengalami stockholm syndrome.

"Stokcholm Syndrome," tulis akun @waffel***.

"Stockholm syndrome gak sih?," komentar @aisya***.

Lantas apa sebenarnya yang dimaksud dengan Stockholm Syndrome?

Melansir dari halodoc, Rabu, 27 Maret 2024, istilah stockholm syndrome lazimnya digunakan pada korban yang "tersandera" secara fisik maupun psikis.

Sindrom ini mengembangkan perasaan positif di diri korban yang mengalami kekerasan yang kemudian ia tunjukkan untuk pelaku penyanderaan dan penculikan, dari waktu ke waktu.

Sindrom ini juga bisa diartikan sebagai mekanisme koping (coping mechanism) yang terjadi pada mereka yang mengalami beberapa kondisi lainnya, seperti pelecehan dalam hubungan.

Mengutip dari laman resmi my.cleveland.org, nama Stockholm Syndrome terinspirasi dari peristiwa pada tahun 1973. Kala itu, terjadi sebuah perampokan besar-besaran di Stockholm, Swedia selama 6 hari.

Para tersandra yang merupakan pegawai bank dan nasabah, akhirnya mulai bersimpati pada perampok tersebut. Setelah dibebaskan, para korban kemudian menolak untuk memberikan kesaksian di pengadilan. Bahkan, para mantan tersandera ini mengumpulkan uang untuk memberi pembelaan pada para pelaku kejahatan.

Adapun gejala Stockholm Syndrome, yakni sebagai berikut:

- Munculnya perasaan positif pada pelaku kekerasan, pelaku penculikan dan pelaku kejahatan lainnya.

- Merasa tidak percaya dirim jengkel, gelisah, cemas, kesulitan berkonsentrasi

- Memiliki simpati berlebih atau keyakinan pada perilaku penculik/pelaku kejahatan

- Munculnya perasaan negatif pada penegak hukum atau figur otoritas lainnya

Sementara itu, dari laporan American Psychiatric Association disebutkan, jika sindrom ini tidak diakui sebagai suatu kondisi penyakit atau gangguan kesehatan mental. Namun layanan kesehatan atau tenaga medis akan mengenali perilaku ini sebagai hasil dari kondisi traumatis yang dialami pasien.

Redaktur : Puri

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.