REQNews.com

Tak Kunjung Siuman Usai Dianiaya Polisi Gegara Jilbab, Armita Geravand Dinyatakan Mati Otak

News

Monday, 23 October 2023 - 18:31

Armita Geravand yang mengalami koma setelah diduga dianiaya polisi Iran (Foto:Istimewa)Armita Geravand yang mengalami koma setelah diduga dianiaya polisi Iran (Foto:Istimewa)

TEHERAN, REQNews - Seorang gadis remaja, Armita Geravand yang mengalami koma setelah diduga dianiaya polisi Iran karena melanggar peraturan jilbab, dinyatakan mati otak.

Hal itu disampaikan media pemerintah Iran pada hari Minggu 22 Oktober 2023.

Dilansir Reuters, organisasi HAM Kurdi-Iran bernama Hengaw adalah kelompok yang pertama kali mengungkap apa yang terjadi pada Armita Geravand kepada publik.

Hengaw menerbitkan foto-foto gadis berusia 16 tahun itu di media sosial.

Armita Geravand tampak tidak sadarkan diri dengan selang pernapasan dan perban di kepalanya.

Gadis itu juga tampak menggunakan alat bantu hidup.

“Tindak lanjut terhadap kondisi kesehatan terkini Geravand menunjukkan bahwa kondisi mati otaknya tampaknya pasti terjadi meskipun staf medis sudah berusaha semaksimal mungkin,” lapor media pemerintah.

Kejadian ini berawal pada awal Oktober lalu, Geravand diseret keluar dari gerbong kereta api oleh polisi Iran. Video kejadian itu viral di media sosial.

Namun, tidak ada rekaman di dalam kereta yang menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.

Kepala Perusahaan Pengoperasian Metro Teheran, Masoud Dorosti, mengatakan kepada IRNA, media yang dikelola pemerintah, bahwa rekaman CCTV tidak menunjukkan tanda-tanda konflik verbal atau fisik antara penumpang atau karyawan perusahaan.

Sementara itu, seorang jurnalis Iran sempat ditangkap sebentar tak lama setelah Geravand dilaporkan mengalami koma.

Jurnalis tersebut berniat pergi ke rumah sakit untuk menanyakan situasi Geravand, media Iran iranwire.com melaporkan.

Badan peradilan dan keamanan Iran tidak memberikan alasan resmi atas penangkapan jurnalis bernama Maryam Lotfi itu.

Namun diyakini tujuannya adalah untuk mencegah tersebarnya berita tentang cedera yang dialami Armita Geravand.

“Lembaga keamanan Iran mengatakan kondisi Armita Geravand disebabkan oleh tekanan darah rendah – sebuah skenario yang sering diulangi oleh lembaga-lembaga tersebut,” kata kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Iran, Dadban, melalui media sosial saat itu.

Dalam sebuah video yang diposting IRNA, orang tua Geravand mengatakan putri mereka mengalami tekanan darah rendah, kehilangan keseimbangan, dan kemudian kepalanya terbentur di dalam gerbong kereta.

“Saya pikir tekanan darah putri saya turun, saya tidak terlalu yakin,” kata ibunya.

Ia menambahkan, tidak ada gunanya menimbulkan kontroversi.

Namun Hengaw mengatakan mereka menerima informasi yang menunjukkan bahwa orang tua Geravand sebenarnya diwawancarai di depan petugas keamanan tingkat tinggi "di bawah tekanan besar."

Hengaw meminta pihak berwenang untuk mempublikasikan rekaman dari dalam gerbang, dan mengklaim bahwa pernyataan orangtuanya dibuat di bawah tekanan.

Muncul kekhawatiran dari para pembela hak asasi manusia bahwa Geravand mungkin menghadapi nasib yang sama seperti Mahsa Amini.

Mahsa Amini, meninggal pada September 2022 lalu saat dalam penahanan polisi Iran karena kasus yang sama, melanggar peraturan soal jilbab.

Kematiannya memicu protes selama berbulan-bulan di seluruh negeri.

Amini (22) saat itu melakukan kunjungan bersama keluarganya ke ibu kota Iran ketika dia ditahan pada 13 September oleh unit polisi yang bertanggung jawab untuk menegakkan aturan berpakaian ketat Iran untuk wanita, termasuk mengenakan jilbab di depan umum.

Amini dinyatakan meninggal pada 16 September oleh televisi pemerintah setelah menghabiskan tiga hari dalam keadaan koma.

Pemerintahan teokratis Iran telah memberlakukan pembatasan terhadap pakaian perempuan sejak revolusi rakyat menggulingkan Shah yang sekuler dan didukung Barat pada tahun 1979.

Iran mewajibkan perempuan untuk menutupi rambut mereka dan mengenakan pakaian panjang dan longgar.

Pelanggar akan menghadapi teguran publik, denda atau penangkapan.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.