REQNews.com

Nilai Rial Terjun Bebas, Aksi Mogok dan Demonstrasi Meluas di Iran

News

Wednesday, 31 December 2025 - 19:00

Bendera Iran (Foto:Istimewa)Bendera Iran (Foto:Istimewa)

TEHERAN, REQNews – Tekanan ekonomi yang semakin berat mendorong meluasnya gelombang protes dan aksi mogok di Iran hingga hari ketiga berturut-turut. Lonjakan inflasi yang tidak terkendali serta kejatuhan nilai tukar rial terhadap dolar AS menjadi pemicu utama kemarahan publik.

Aksi ini pertama kali mencuat pada Minggu 28 Desember 2025, ketika para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko-toko mereka sebagai bentuk protes. Nilai tukar rial saat itu jatuh ke level terendah sepanjang sejarah di pasar bebas, memperburuk keresahan pelaku usaha dan masyarakat luas.

Seiring berjalannya waktu, demonstrasi meluas ke berbagai wilayah. Rekaman video yang telah diverifikasi BBC Persian memperlihatkan aksi massa di sejumlah kota, antara lain Karaj, Hamedan, Qeshm, Malard, Isfahan, Kermanshah, Shiraz, dan Yazd. Aparat keamanan tampak berupaya membubarkan kerumunan dengan gas air mata.

Pemerintah Iran mengakui terjadinya aksi protes tersebut dan menyatakan akan meresponsnya dengan pendekatan yang tenang. Presiden Masoud Pezeshkian, melalui akun media sosial X pada Senin 29 Desember 2025 malam, mengatakan telah memerintahkan Menteri Dalam Negeri untuk membuka dialog dengan pihak-pihak yang disebutnya sebagai perwakilan demonstran.

Menurut Pezeshkian, dialog diperlukan agar pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang bertanggung jawab dalam mengatasi persoalan ekonomi. Di tengah situasi itu, ia menerima pengunduran diri Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammadreza Farzin, dan menunjuk mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan, Abdolnasser Hemmati, sebagai penggantinya.

Gelombang unjuk rasa juga melibatkan kalangan mahasiswa. Mereka terdengar meneriakkan slogan-slogan keras yang mengecam pemerintahan, termasuk seruan “Mati bagi diktator” yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Beberapa demonstran bahkan menyuarakan dukungan terhadap Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi, dengan meneriakkan slogan “Hidup Shah”.

Reza Pahlavi, yang kini bermukim di Amerika Serikat, secara terbuka menyatakan dukungannya. Dalam unggahan di X, ia menulis bahwa dirinya berdiri bersama para demonstran dan meyakini kemenangan akan tercapai karena tujuan mereka dianggap adil dan dijalankan secara kolektif. Ia juga menilai kondisi ekonomi Iran akan terus memburuk selama pemerintahan saat ini masih berkuasa.

Dukungan internasional turut mengalir. Akun X berbahasa Persia milik Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat memuji keberanian para pengunjuk rasa dan menyatakan solidaritas terhadap warga Iran yang memperjuangkan martabat serta masa depan yang lebih baik, setelah bertahun-tahun kebijakan ekonomi yang dinilai gagal dan sarat salah kelola.

Situasi di Iran menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida pada Senin. Dalam konferensi pers bersama, Trump tidak secara eksplisit menyatakan dukungan terhadap perubahan rezim di Iran, namun menyoroti krisis ekonomi yang semakin parah, termasuk inflasi tinggi dan melemahnya perekonomian.

Trump juga membuka kemungkinan dukungan terhadap serangan udara Israel jika Iran kembali mengembangkan program rudal balistik atau nuklir. Pernyataan tersebut merujuk pada konflik bersenjata selama 12 hari pada Juni lalu, ketika AS turut melakukan serangan udara terhadap fasilitas utama pengayaan uranium Iran. Pemerintah Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.

Presiden Pezeshkian pada Selasa menegaskan bahwa Iran akan memberikan respons tegas dan menyakitkan terhadap setiap bentuk agresi. Sementara itu, Ayatullah Ali Khamenei sebelumnya menuduh Israel berupaya memanfaatkan gejolak sosial selama konflik untuk menggulingkan pemerintahan.

“Mereka ingin menghasut masyarakat di jalanan, tetapi rakyat sama sekali tidak terpengaruh oleh keinginan musuh,” ujar Khamenei dalam pernyataan yang disampaikan pada September lalu.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.