REQNews.com

Melintas Selat Hormuz Kini Mahal, Iran Patok Biaya Rp33 Miliar per Kapal

News

Minggu, 29 Maret 2026 - 17:00

Ilustrasi Kapal di Laut (Foto:Istimewa)Ilustrasi Kapal di Laut (Foto:Istimewa)

TEHERAN, REQNews - Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah kini berdampak langsung pada jalur distribusi energi global. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi nadi perdagangan minyak dunia, disebut tidak lagi bisa dilintasi secara bebas tanpa biaya tinggi.

Di tengah konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, muncul kebijakan baru yang menuai sorotan. Kapal-kapal yang ingin melintas di jalur strategis tersebut dikabarkan harus membayar biaya transit dengan nilai yang tidak sedikit.

Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, menyebut tarif yang dikenakan mencapai US$2 juta atau sekitar Rp33 miliar untuk setiap kapal. Menurutnya, kebijakan itu merupakan bentuk kompensasi atas jaminan keamanan yang diberikan di wilayah yang tengah dilanda konflik.

Iran beralasan bahwa Selat Hormuz berada dalam pengaruhnya, sehingga penerapan biaya dianggap wajar layaknya pungutan di jalur perdagangan lainnya. Kebijakan tersebut bahkan tengah dipersiapkan dalam bentuk aturan resmi oleh parlemen setempat.

Langkah ini diambil setelah situasi memanas sejak akhir Februari 2026. Dalam kondisi tersebut, Iran memperketat akses ke Selat Hormuz yang selama ini dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.

Dampaknya langsung terasa di sektor pelayaran global. Diperkirakan hampir 2.000 kapal kini tertahan di sekitar kawasan tersebut. Banyak operator memilih menunggu kejelasan ketimbang mengambil risiko membayar biaya tinggi atau memutar jalur yang lebih jauh dengan konsekuensi biaya logistik yang membengkak.

Gejolak ini juga memicu lonjakan harga energi dunia. Harga minyak dilaporkan menembus lebih dari US$100 per barel, meningkat tajam dibandingkan sebelum konflik terjadi. Kenaikan ini memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi hingga potensi perlambatan ekonomi global.

Sejumlah negara mulai memberikan tekanan diplomatik agar Iran membuka kembali akses Selat Hormuz tanpa hambatan. Namun, bagi Iran, kendali atas jalur tersebut menjadi bagian dari strategi dalam menghadapi konflik, termasuk untuk memperkuat posisi tawarnya di kancah internasional.

Bagi negara-negara Asia, kondisi ini menjadi pukulan tersendiri karena ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk. Indonesia pun tidak luput dari dampaknya, terutama terkait potensi kenaikan biaya impor energi dan distribusi logistik.

Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan energi nasional masih aman untuk saat ini, meskipun sejumlah kapal tanker, termasuk yang terkait dengan perusahaan energi nasional, ikut terdampak situasi di lapangan.

Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur vital perdagangan minyak kini berubah menjadi titik krusial penuh risiko. Selain faktor keamanan, kebijakan biaya tinggi yang diberlakukan menjadikannya tantangan baru bagi industri pelayaran dan perdagangan energi global.

Redaktur : Desi

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.