Tokoh Adat, Agama, dan Pemuda Papua Serukan Perspektif yang Lebih Berimbang Terkait Film Pesta Babi
JAKARTA, REQNews — Perdebatan mengenai film dokumenter Pesta Babi terus bergulir dan memunculkan beragam respons dari berbagai kalangan di Papua. Di tengah kontroversi yang berkembang, sejumlah tokoh adat, agama, dan pemuda menilai film tersebut belum sepenuhnya menggambarkan wajah Papua secara utuh.
Menurut mereka, kehidupan masyarakat Papua saat ini tidak hanya diwarnai persoalan konflik, tetapi juga berbagai upaya pembangunan, peningkatan kesejahteraan, dan harapan masyarakat terhadap masa depan daerahnya.
Perdebatan semakin mengemuka setelah sejumlah pihak mempertanyakan sudut pandang yang digunakan dalam film tersebut. Mereka menilai narasi yang ditampilkan lebih banyak menyoroti sisi konflik dibanding perkembangan yang sedang berlangsung di berbagai wilayah Papua.
Menanggapi polemik itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, menegaskan bahwa pemerintah selama ini terus menjalankan pembangunan Papua melalui berbagai pendekatan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
"Papua harus dibangun dengan pendekatan komprehensif yang mengedepankan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan," ujar Djamari, Minggu, 31 Mei 2026.
Menurut Djamari, pembangunan Papua tidak hanya difokuskan pada aspek keamanan, tetapi juga melalui penguatan pelayanan publik, dialog dengan masyarakat, penghormatan terhadap budaya lokal, serta berbagai program pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar warga.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, memperluas akses pendidikan dan layanan kesehatan, serta menjalankan program ketahanan pangan untuk mengurangi keterisolasian sejumlah wilayah.
Di mata pemerintah, Papua dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
Polemik film tersebut juga mendapat perhatian setelah tokoh perempuan adat asal Merauke, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta, menyampaikan keberatannya terkait keterlibatannya dalam film tersebut.
Mama Sinta mengaku tidak mengetahui bahwa aktivitas yang diikutinya akan menjadi bagian dari sebuah film dokumenter dengan narasi tertentu.
"Saya kecewa karena nama dan wajah saya dipakai tanpa penjelasan yang jelas," katanya.
Bagi Mama Sinta, persoalan yang paling dirasakan masyarakat saat ini bukanlah narasi konflik yang terus diangkat, melainkan kebutuhan terhadap akses ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan yang lebih baik.
"Masyarakat Papua ingin hidup damai dan sejahtera," ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC. Ia mengajak masyarakat untuk melihat persoalan Papua secara lebih luas dan tidak terjebak pada satu sudut pandang semata.
“Papua tidak hanya bicara soal konflik, tetapi juga tentang persaudaraan, pembangunan, dan harapan masyarakat untuk maju,” tuturnya.
Sementara itu, tokoh pemuda Papua Paulinus Ohee mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah berbagai narasi yang berkembang di ruang publik. Menurutnya, generasi muda perlu bersikap bijak dalam menyikapi informasi yang beredar agar tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang berpotensi menimbulkan perpecahan.
Ia menilai stabilitas sosial dan optimisme menjadi faktor penting agar berbagai program pembangunan dapat berjalan efektif dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat asli Papua.
Di tengah perdebatan mengenai film dokumenter tersebut, berbagai tokoh menekankan bahwa masa depan Papua perlu dibangun melalui kerja sama seluruh elemen, mulai dari pemerintah, masyarakat adat, tokoh agama, hingga generasi muda.
Dengan kekayaan budaya, sumber daya alam, dan potensi masyarakat yang dimiliki, Papua dinilai memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Karena itu, mereka berharap pembahasan mengenai Papua tidak hanya berhenti pada narasi konflik, tetapi juga memberi ruang bagi cerita tentang pembangunan, persaudaraan, dan harapan masyarakat yang sedang tumbuh di Bumi Cenderawasih.
Redaktur : Desi
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait.
Berita Rekomendasi
Tidak ada berita rekomendasi.
