REQNews.com

Dikabarkan Jadi Tersangka Kasus Penggelapan, Begini Penjelasan Dahlan Iskan

The Other Side

Thursday, 10 July 2025 - 21:00

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan (Foto: Istimewa)Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REQnews - Usai heboh dikabarkan menjadi tersangka kasus penggelapan, Dahlan Iskan akhirnya buka suara memberikan klarifikasi.

Melalui akun Instagramnya, Dahlan Iskan memberikan penjelasan panjang mengenai duduk perkara atas kasus yang menyeretnya.

Dahlan bercerita bahwa beberapa waktu terakhir dirinya memang harus memberikan keterangan di polisi sebagai saksi atas laporan yang dibuat seorang direksi Jawa Pos terkait peristiwa 25 tahun lalu.

Peristiwa yang dimaksud adalah soal kepemilikan saham di Tabloid Nyata, salah satu produk dari Jawa Pos.

"Sungguh tidak saya sangka persoalan itu diadukan ke polisi. Mengapa Jawa Pos tidak juga mengadukan, misalnya 'siapa pemegang saham harian Memorandum'. Atau mingguan berbahasa Jawa 'Jayabaya" tulis Dahlan dikutip Kamis, 10 Juli 2025.

Dahlan lantas bercerita perihal perjuangannya yang jatuh bangun membesarkan Jawa Pos di masa lalu. Hingga akhirnya ia terpaksa melepas jabatan Dirut Jawa Pos karena dipercaya menjadi dirut di salah satu perusahaan BUMN.

Dahlan kemudian secara penuh melepaskan diri dari manajemen Jawa Pos sejak tahun 2009. Sementara soal pemegang saham Tabloid Nyata, Dahlan mengaku sudah memberikan penjelasan ke polisi dan pemeriksaannya belum selesai.

"Tapi karena saya sudah diberitakan jadi tersangka, maka saya tegaskan tidak semua media yang saya pimpin adalah milik Jawa Pos. Ada beberapa (saja) bukan milik Jawa Pos. Termasuk Nyata. Ada riwayatnya mengapa begitu," jelasnya.

Lebih lanjut, Dahlan mengatakan, saat ini dirinya belum bisa menceritakan secara gamblang kondisi yang terjadi untuk menghormati pengadilan. Namun dia menekankan bahwa pimpinan Jawa Pos yang sekarang, tidak tahu sejarah karena menganggap Tabloid Nyata miliknya. Karena itu, terjadilah sengketa.

"Jadi ini sengketa saham di Nyata. Bukan di Jawa Pos. Perdata," ujar Dahlan Iskan.

Saat ini, sidang perdata kasus ini sedang bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya.

"Tiba-tiba ada berita saya jadi tersangka," tandasnya.

Berikut pernyataan lengkap Dahlan Iskan:

"....Saya tidak pernah menyangka 15 tahun kemudian ternyata saya memerlukannya.

Itu karena hari-hari ini saya harus memberikan keterangan di polisi sebagai saksi atas pengaduan direksi Jawa Pos --direksi yang sekarang-- tentang peristiwa 25 tahun yang lalu. Yakni soal siapa sebenarnya pemilik saham Tabloid Nyata.

Saya pun harus menjelaskan ke polisi sepanjang ingatan saya. Ternyata harus ada bukti dalam bentuk dokumen. Maka saya perlukan banyak dokumen.

Sungguh tidak saya sangka persoalan itu diadukan ke polisi. Mengapa Jawa Pos tidak juga mengadukan, misalnya "siapa pemegang saham harian Memorandum". Atau mingguan berbahasa Jawa "Jayabaya".

Maka kejadian hampir 25 tahun lalu harus saya flashback. Siapa sangka itu akan terjadi tahun ini. Hidup ini ternyata banyak juga yang harus dijalani tanpa pernah disangka.

Yang juga tidak pernah saya sangka adalah: saya berurusan dengan polisi di usia saya yang 74 tahun. Dulu, saya kira, saya itu akan seumur hidup di Jawa Pos. Katakanlah sampai mati. Bahkan saya bayangkan mungkin makam saya pun kelak akan di halaman gedung Jawa Pos.

Itu karena, seperti banyak yang bilang, "Jawa Pos adalah Dahlan Iskan, dan Dahlan Iskan adalah Jawa Pos". Rasanya pernah ada media yang sampai menulis seperti itu.

Seluruh energi muda saya memang tumpah untuk Jawa Pos. Saya sempat bahagia ketika banyak yang mengakui bahwa sayalah yang membuat Jawa Pos dari perusahaan yang begitu kecil dan miskin menjadi raksasa media dengan kekayaan bertriliun-triliun rupiah.

Sebenarnya bukan hanya saya yang bekerja keras untuk membangun Jawa Pos. Tapi juga seluruh karyawan saat itu. Terutama karyawan yang hebat-hebat. Tapi saya memang bekerja rata-rata 16 jam sehari. Selama berpuluh tahun. Sangat sering sampai pukul 02.00. Setelah itu pun sering masih harus keliling ke agen-agen. Mulai urusan manajemen sampai urusan mengedit berita. Mulai dari mengurus agen sampai percetakan. Mulai dari sehat sampai terkena sakit liver ---sampai muntah darah.

Dalam posisi Jawa Pos yang sudah kaya raya itu saya mendapat tugas negara: mengatasi krisis listrik di Indonesia. Sebenarnya saya tidak mau. Tapi ini tugas negara. Saya pun menjadi dirut PLN di tahun 2009.

Sebagai dirut BUMN saya tidak boleh merangkap jabatan di swasta. Maka saya harus melepaskan jabatan dirut Jawa Pos. Tidak masalah. Toh di PLN saya tidak akan lama. Maksimum tiga tahun. Bisa kembali ke Jawa Pos lagi.

Ternyata saya tidak pernah bisa kembali ke Jawa Pos. Pemegang saham mayoritas yang selama puluhan tahun hanya mengawasi dari jauh sudah menjadi sangat berkuasa di Jawa Pos. Begitulah perusahaan. Apalagi sudah punya uang banyak.

Memang saya masih ditawari jadi komisaris, hanya komisaris, bukan Komut, tentu saya tidak mau.

Begitulah. Sejak tahun 2009 itu saya sudah meninggalkan manajemen Jawa Pos. Tapi mayoritas pembaca tidak tahu. Saya masih dikira pimpinan Jawa Pos. Pun sampai kemarin saya di Perth, masih diperkenalkan sebagi bos Jawa Pos.

(Bersama pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Chamber of Commerce of Western Australia di Tempatan Bay, Perth, 8 Juli 2025)

Saya memang tidak pernah membuat pernyataan terbuka bahwa saya sudah bukan pimpinan Jawa Pos. Agar tidak menimbulkan tanda tanya di pembaca.

Saya sendiri mendapat saham di PT Jawa Pos sebagai hadiah atas prestasi saya itu. Itu karena Eric Samola, wakil pemegang saham mayoritas saat itu, tahu Jawa Pos sangat maju tanpa modal dari para pemegang saham. Tidak ada pemegang saham yang setor modal di awal kebangkitan Jawa Pos di tahun 1982 itu.

Modal satu-satunya adalah utang: PT Grafiti Pers mengeluarkan uang untuk membeli Jawa Pos dari pemilik lama yang sudah berumur 90 tahun: The Chung Shen.

Eric Samola adalah dirut PT Grafiti saat itu.

Dalam dua tahun, Eric minta kembali uang itu. Dari kas Jawa Pos. Maka uang Grafiti pun sudah dikembalikan utuh. Seluruhnya. Itu uang dari hasil kerja kami di Jawa Pos.

Sebenarnya saat itu Jawa Pos masih miskin. Tapi Eric Samola berkeras minta agar uang pembelian Jawa Pos itu dikembalikan ke PT Grafiti. Saya tahu latar belakangnya: agar Eric tidak disalahkan pemegang saham Grafiti yang lain. Yakni mengapa menggunakan uang untuk membeli koran kecil di daerah yang tidak ada harapan.

Dengan mengembalikan uang itu Eric tidak akan disalahkan bila akhirnya kelak Jawa Pos di tangan saya tidak bisa maju. Toh uang yang dipakai membeli Jawa Pos sudah dikembalikan dari hasil kerja kami.

Jadi, siapa sebenarnya pemegang saham Nyata? Saya sedang menceritakannya ke polisi, sehingga tidak bisa saya uraikan di sini. Pemeriksaan belum selesai.

Tapi karena saya sudah diberitakan jadi tersangka, maka saya tegaskan tidak semua media yang saya pimpin adalah milik Jawa Pos.

Ada beberapa (saja) bukan milik Jawa Pos. Termasuk Nyata. Ada riwayatnya mengapa begitu.

Saya belum bisa ceritakan untuk menghormati pengadilan. Tapi pimpinan Jawa Pos yang sekarang, yang tidak tahu sejarah itu, menganggap Nyata miliknya. Jadilah sengketa. Jadi ini sengketa saham di Nyata. Bukan di Jawa Pos. Perdata.

Sidang perdatanya sedang berlangsung di Pengadilan Negeri Surabaya. Tiba-tiba ada berita saya jadi tersangka.

Sebenarnya saya tidak ingin menulis ini di Disway. Kesannya kurang baik, saya memanfaatkan Disway. Tapi saya tidak bisa menjawab satu per satu pertanyaan pembaca yang bertubi-tubi. Maafkan. (Dahlan Iskan)
 

Redaktur : Puri

REQ Home
IFBC Expo Oktober 2025
REQcomm Strategic Consultant

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait.

Berita Rekomendasi

Tidak ada berita rekomendasi.